Yu Darmi 2: Perselingkuhan yang Direstui

Yu Darmi 2: Perselingkuhan yang Direstuiby adminon.Yu Darmi 2: Perselingkuhan yang DirestuiTangan Yu Darmi segera meremas lembut batang kemaluanku yang masih keras yang menempel ketat di pinggulnya. Rupanya ia sudah mulai bergairah lagi. “Sudah mau lagi yu…” bisikku mesra di telinganya. “Alaahh… mas Ardi ini…aku kan Cuma kasihan sama adiknya ini lho yang dari tadi berdiri terus dan ndesel-ndesel nyari lawannya” katanya sambil memencet batang penisku. […]

Tangan Yu Darmi segera meremas lembut batang kemaluanku yang masih keras yang menempel ketat di pinggulnya. Rupanya ia sudah mulai bergairah lagi.
“Sudah mau lagi yu…” bisikku mesra di telinganya.
“Alaahh… mas Ardi ini…aku kan Cuma kasihan sama adiknya ini lho yang dari tadi berdiri terus dan ndesel-ndesel nyari lawannya” katanya sambil memencet batang penisku.
Yu Darmi 2Mungkin terinspirasi oleh permainan oralku pada lubang kemaluannya tadi, Yu Darmi segera menggeser tubuhnya ke bawah hingga wajahnya menghadap selangkanganku. Lalu dengan sigap bibirnya mulai mengulum ujung kemaluanku. Mula-mula ia tampak kaku karena mungkin belum terbiasa melakukan oral seks. Aku menyemangatinya dengan mengelus-elus rambutnya dan menekan kepalanya sehingga batang kemaluanku semakin terdorong masuk ke dalam mulutnya. Dengan pelan kutarik lagi kepalanya sehingga batang kemaluanku bergerak keluar masuk di dalam mulutnya.
Setelah beberapa kali kubantu dengan dorongan di kepalanya akhirnya yu Darmi menjadi semakin mahir. Bahkan lidahnya mulai bergerak-gerak menyusuri batang kemaluanku dari ujung hingga ke pangkalnya.
“Aduh…yuuu…terushhh…oughh…” Aku melenguh kenikmatan saat lidah yu Darmi mulai menyapu-nyapu pangkal batang kemaluanku bahkan sekali-kali lidahnya menyentuh dekat lubang anusku. Geli sekali rasanya.
Dengan isyarat tarikan tanganku di bagian pundaknya, perlahan-lahan yu Darmi mulai merubah posisi tubuhnya. Tubuh bagian bawahnya digeser ke atas sehingga kini tubuhnya menjadi merangkak di atasku. Dan kini selangkangannya persis menghadap ke wajahku. Kedua lututnya diletakkannya di sisi kanan dan kiri wajahku sehingga ia mengangkangiku.
Aku sangat bernapsu melihat bukit kemaluannya yang berada tepat didepan wajahku. Lalu dengan serta-merta kudekatkan wajahku ke selangkangannya dan mulai mencium dan menjilati gundukan bukit kemaluannya. Kini kami saling jilat dengan posisi 69 dengan yu Darmi berada di atas tubuhku.
Lidahku menjilati klitorisnya dengan rakus seperti orang kelaparan yang bertemu makanan sementara Yu Darmi menghisap tongkolku dengan lembut dan sesekali menjilati kepala penisku yang membuat merasa seperti tersengat listrik.
“Uhh.. sshh..”, aku mendesah ketika hisapan yu Darmi senakin kuat.
Semakin cepat lidahku menggelitik klentitnya semakin ganas pula dia mengulum penisku.
Lidahku semakin ganas mengais-ngais kelentit yu Darmi yang semakin membengkak hingga ia meghentikan kenyotannya pada batang kemaluanku. Ia nampaknya sangat menikmati jilatanku pada kelentitnya. Tangannya semakin kuat mencengkeram buah pantatku dan kepalanya sedikit mendongak seolah sedang menahan sesuatu.
“Aduh…masss….aku….gak kuattt…masss…” Aku tahu yu Darmi hampir orgasme lagi. Tapi aku sengaja menggodanya dengan menghentikan rangsanganku pada klitorisnya. Lalu aku segera menarik tubuh yu Darmi dan kuposisikan sejajar dengan tubuhku dengan yu Darmi tetap menindih tubuhku. Aku berbaring terlentang sementara yu Darmi memposisikan diri berjongkok di atas perutku. Terlihat dua buah bukit payudaranya menggantung indah indah yang membuat darahku berdesir hebat. Sementara di selangkangannya terdapat gundukan bukit yang lebat dengan bulu-bulunya yang membuat rudalku semakin mengeras.
Yu Darmi yang tadi sudah hampir mencapai orgasmenya dan kuputus secara tiba-tiba segera mengatur posisinya dengan meletakan pantatnya di atas kemaluanku. Kedua kakinya dilipat sejajar pahaku lalu tangannya menuntun batang kemaluanku dan meletakan ujungnya di antara bibir bukit kemaluannya yang sudah sangat licin. Setelah dirasa pas perlahan-lahan yu Darmi menekan pantatnya hingga secara perlahan batang kemaluanku mulai tertelan ke dalam bukit kemaluannya.
“Ugh…” tanpa aba-aba kami melenguh bersamaan. Batang kemaluanku serasa dipilin oleh lubang kemaluan yu Darmi yang hangat dan sangat licin. Lubang kemaluannya serasa sempit sekali seperti perawan saja layaknya.
Tubuh yu Darmi terdiam beberapa saat ketika tubuh kami benar-benar menyatu. Aku merasa betapa batang kemaluanku yang melesak ke dalam lubang kemaluannya terasa seperti diremas-remas oleh denyutan lubang kemaluan yu Darmi yang hangat dan licin. Aku menikmati sekali sensasi ini.
Kami saling bertatap mesra dengan yu Darmi menduduki selangkanganku. Lalu perlahan-lahan yu Darmi mulai mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendekatkan payudaranya ke mulutku. Aku segera menyambut payudaranya yang masih sekal dan kencang. Meskipun kulit yu Darmi agak kecoklatan, tetapi kedua bukit payudaranya lebih putih dibandingkan warna kulit di bagian tubuh lainnya. Ini mungkin karena bagian itu selalu terkurung rapat oleh BH yang selalu dipakainya.
Yu Darmi mulai menggerakkan pantatnya diayunkan naik turun dengan simultan. Aku membantu gerakan pantat yu Darmi dengan kedua tanganku yang memegang kedua bongkahan pantatnya dan ikut mempercepat ayunan pantatnya. Sementara lidahku tetap sibuh mengulum puting payudaranya yang disorongkannya ke wajahku.
“Ogh…hhhhh… ohhhhhhhh…!” yu Darmi tak henti-hentinya mendesah-desah keenakan. Kedua tanganku semakin ketat mencengkeram pinggul yu Darmi untuk membantu mengatur gerakan naik-turun pantatnya.
Yu Darmi semakin liar menghentak-hentakkan pantatnya, meliuk-liuk di atas tubuhku, seperti seekor ular betina yang tengah membelit mangsanya. Terkadang ia juga membuat goyangan memutar-mutar pantatnya sehingga jepitan memiawnya terasa mantap. Batang tongkolku terasa seperti di pelintir dan dipijit-pijit di dalam lubang kenikmatan itu. Terasa sangat hangat dan nikmat. Ooouuuhhh…
Semakin lama gerakan tubuh yu Darmi semakin liar tak terkendali. Tulang pubisnya menekan kuat ke tulang pubisku dan tubuhnya berkejat-kejat. Saat itu aku merasakan betapa ujung batang kejantananku melesak semakin dalam dan mentok sampai dinding terdalam rongga lubang kemaluannya. Nafas kami juga semakin memburu, seperti bunyi lokomotif tua yang berjalan dengan sisa-sisa tenaganya.
“Oh, mass….aku … gak kuat…lagi…oughhhhh!” Yu Darmi melenguh panjang dan tangannya semakin ketat menekan kepalaku ke dadanya. Aku merasakan betapa dinding lubang kemaluannya berdenyut-denyut dan mencengkeram batang kemaluanku yang terjepit di dalam kehangatannya.
Tubuhnya terus berkejat-kejat di atas perutku. Aku yang ingin membahagiakan yu Darmi secara total segera merespon saat-saat orgasme yu Darmi dengan ikut memutar pinggulku secepatnya.
“Oughhhh…ouhhhh…ohhhhhhhhhh” kudengar yu Darmi melenguh menahan nikmat yang amat sangat sambil memejamkan matanya seolah sedang menahan sesuatu. Tubuhnya berkelojotan selama beberapa saat lalu ambruk di atas tubuhku. Napasnya kudengar masih ngos-ngosan seperti habis berlari-lari. Payudaranya yang montok terasa nyaman menekan dadaku.
Tanganku segera kulingkarkan ke punggungnya dan mengelusnya dengan mesra. Yu Darmi menciumi pipiku dan bibirku dengan mesranya.
“Terima kasih mas Ardi…sampeyan sudah memenuhi rasa dahagaku selama ini” ia terus menciumi bibirku dengan sangat mesranya.
Batang kemaluanku yang masih keras tetap terjepit erat di dalam lubang kamaluannya yang hangat. Lalu dengan perlahan kudorong tubuh yu Darmi agar terduduk lagi. Kini ia duduk tegak di atas tubuhku dengan batang kemaluanku masih terjepit lubang kemaluannya.
Napsu yu Darmi mungkin mulai terbangkit lagi. Hal ini nampak dari gerakan pinggulnya yang mulai bergerak perlahan maju mundur dan bergoyang ke kiri dan ke kanan. Gerakan-gerakan yang dilakukan yu Darmi sungguh erotis karena dilakukan sambil menengadahkan kepala dan memejamkan mata sambil mulutnya sedikit ternganga.
Kedua telapak tangannya menapak di dadaku sebagai pijakan dalam menggoyangkan pinggulnya. Goyangan pinggulnya kontan saja menimbulkan sensasi tersendiri pada batang kemaluanku yang masih erat terjepit dalam kehangatan lubang kemaluan yu Darmi. Batang kemaluanku seperti digiling oleh kehangatan dinding lubang kemaluan yu Darmi yang sudah sangat licin. Aku menggigit bibir menahan kenikmatan yang mulai menjalar dari ujung batang kemaluanku itu.
“Ughh….yu….ter..rushhh…yu….akkhhhhh” aku melenguh seolah tak sadar. Aku harus menggigit bibir untuk menahan kenikmatan yang amat sangat.
Tubuh Yu Darmi yang bergoyang liar di atas perutku nampak demikian indah. Kedua bukit payudaranya yang montok berayun indah seirama goyangan tubuhnya. Aku tak tahan melihat pemandangan itu segera saja tanganku bergerak ke arah kedua bukit payudaranya dan mulai meraba dan meremasnya dengan gemas.
“Shhh…masshhhh…ohhh…massshhh….aku….aku….akhhhhh” yu Darmi semakin liar mengayunkan pantatnya di atas perutku sehingga tulang kemaluannya menekan semakin ketat ke tulang kemaluanku. Tubuhnya tersentak dan berkejat-kejat menandakan bahwa ia kembali memperoleh orgasmenya untuk yang kesekian kalinya. Aku merasakan betapa jepitan lubang kemaluannya pada batang kemaluanku berkedut-kedut. Ia terus bergerak liar selama beberapa saat dan akhirnya terdiam. Wajahnya menengadah ke atas dan matanya terpejam. Napasnya ngosngosan dan tubuhnya sudah mengkilap karena basah oleh keringat padahal di luar hujan sangat deras.
“Gimana yu…enak to?” aku menggodanya sambil terus meremas kedua bukit payudaranya.
“Aduh mass…baru kali ini aku merasakan yang begini ini…” bisik yu Darmi sambil tersenyum manis sekali.
“Aku belum keluar lho yu…masih kuat kan?”
“Aduh…aku capai sekali mas… bentar ya sayang biar mbakyumu istirahat sejenak”.
Beberapa saat kemudian setelah yu Darmi tampak bisa mengatur napasnya kembali kuminta ia berganti posisi. Ia lalu bangkit dari duduknya hingga batang kemaluanku terlepas dari jepitan lubang kemaluannya.
Yu Darmi lalu berbaring dan meletakkan bantal untuk mengganjal pantatnya sambil mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar. Lalu dengan tak sabar aku segera menempatkan diri di antara kedua pahanya dan mencucukkan batang kemaluanku yang sudah sangat licin oleh cairan kenikmatan yu Darmi ke lubang kemaluannya.
Setelah arahnya tepat aku segera mendorong pantatku hingga batang kemaluanku kembali menyeruak lubang kemaluannya yang sudah sangat licin. Slep….seluruh batang kemaluanku masuk dengan lancarnya ke dalam jepitan lubang kemaluannya. Aku diam selama beberapa saat untuk merasakan sensasi kedutan-kedutan lubang kemaluan yu Darmi yang hangat.
Kudekatkan wajahku ke wajahnya dan mulai mencium bibir yu Darmi yang lalu disambutnya dengan hangat.

Kudorong lidahku ke dalam mulut yu Darmi sambil kuayunkan pantatku hingga batang kemaluanku bergerak keluar masuk dalam jepitan lubang kemaluannya.
Aku terus menghunjamkan batang kemaluanku di dalam lubang kemakuan yu Darmi yang menyambut setiap ayunan pantatku dengan goyangan yang seirama. Perlahan lahan aku mulai merasakan betapa dorongan kenikmatan mulai meledak-ledak. Air maniku serasa terkumpul di batang kemaluanku dan siap menyembur keluar. Aku terus mengayunkan pantatku semakin cepat.
”Ugh…ugh….terush…yuu….” aku menyuruh yu Darmi untuk mempercepat goyangannya. ”Di luar apa di dalam yu….ohhhh” aku masih ingat kalau yu Darmi bukan istriku jadi aku minta ijin sebelum kukeluarkan air maniku.
”Di dalam saja mass…..akhhhh” yu Darmi pun sepertinya sudah hampir sampai sepertiku.
Aku semakin bersemangat mengayunkan batang kemaluanku. Yu Darmi semakin kencang memutar pantatnya hingga batang kemaluanku seperti dipilin dan rasanya nikmat sekali.
”Aduh…masshhh…akhhhh….” yu Darmi merintih nikmat dan tangannya mencengkeram pantatku agar semakin ketat menekan.
”Aughh…yuuu…..aku….kelll…uarhhh…arghhh…” aku menggeram sambil menekan batang kemaluanku sedalam-dalamnya. Kugigit leher yu Darmi kuat kuat sambil menghentakkan tubuhku.
Cret….cret…cret…crett…cret….akhirnya kukeluarkan seluruh isi yang tadi mendesak di dalam batang kemaluanku. Kusemburkan seluruh air maniku ke dalam rahim yu Darmi hingga tiada yang tersisa. Yu Darmi pun memperoleh orgasmenya lagi pada saat yang bersamaan dengan semburan air maniku di dalam lubang rahimnya.
Lemas sekali rasanya tubuhku setelah pendakian yang penuh nikmat ini. Akhirnya aku terdiam dan ambruk di atas perut yu Darmi. Kupeluk erat tubuh telanjang yu Darmi. Tubuh kami sama-sama basah oleh keringat. Batang kemaluanku tetap kubiarkan terjepit dalam lubang kemaluannya hingga sebagian air maniku tertumpah keluar karena terlalu penuh.
Napas kami berangsur-angsur mulai pulih. Aku merasa betapa batang kemauanku yang mulai mengendur sedikit-demi sedikit terdorong keluar dari lubang kemaluan yu Darmi. Plop!!! Kami terhentak saat batang kemaluanku terlepas dengan sendirinya.
Yu Darmi tersenyum dan mencium bibirku sebagai tanda terima kasih. Kami tetap berpelukan sambil bertelanjang bulat selama beberapa saat. Aku sempat melirik jam dinding di atas TV dan ternyata jam sudah mendekati pukul 19.00. Sudah lama sekali kami bergulat dalam birahi di kamar penginapan itu.
”Aduh…yu bagaimana ini…hujan masih saja turun padahal sudah cukup malam begini…”
”Ya kita nginap saja di sini to mas” yu Darmi malah menawarkan untuk menginap di penginapan itu.
”Kalau aku sih seneng aja to yu …tapi bagaimana dengan kang Sarjo?”
”Alaah…gak usah dipikir…pasti kang Sarjo mengira aku langsung pulang soalnya besok pagi kan aku harus jualan”
”Iya juga ya….lalu bagaimana jualannya besok?”
”Masalah jualan kan bisa diatur…biar aku tak telpon kang Sarjo dulu”
Yu Darmi lalu menelpon kang Sarjo dengan hpnya. Ia bilang kalau semua surat-surat sudah beres dan besok tinggal menyerahkan ke RS. Aku pun menelpon istriku dan bilang padanya kalau aku malam ini tidak pulang karena harus menemani kang Sarjo. Istriku yang tahu pertemananku dengan kang Sarjo tidak keberatan kalau aku harus menemani kang Sarjo. Padahal aku saat ini sedang menemani istrinya kang Sarjo!!
Kami akhirnya tertidur saking lelahnya setelah pergumulan panjang itu. Sementara hujan di luar semakin deras sehingga menambah kehangatan di dalam kamar ini. Tubuh telanjang kami saling berpelukan bak pengantin baru.
Kira-kira jam 02.00 aku terbangun karena kebelet pipis dan haus. Kulihat yu Darmi masih terlelap dengan pulasnya didalam pelukanku. Dengan tetap bertelanjang bulat aku melepaskan pelukanku dan beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam kamar.
Aku kembali ke ranjang tempat kami bersetubuh tadi untuk meneruskan tidurku. Kulihat tubuh yu Darmi yang telanjang bulat tertidur meringkuk menghadap ke tembok. Indah sekali tubuh yu Darmi. Pinggangnya yang ramping sangat serasi dengan pinggulnya yang berbentuk seperti biola Spanyol. Bongkahan pantatnya bulat membola begitu indah dan merangsang. Tanpa kusadari batang kemaluanku mulai mengeras kembali melihat kemolekan tubuhnya.
Perlahan-lahan aku kembali berbaring di sebelahnya. Tubuh telanjang yu Darmi kupeluk dari belakang hingga batang kemaluanku yang sudah mengeras menempel ketat di sela-sela bongkahan pantatnya yang sangat indah itu. Gila!!! Hangat sekali rasanya. Pantas gairahnya begitu menggebu saat bersetubuh tadi. Rupanya dibalik kelembutannya, yu Darmi menyimpan kehangatan yang begitu menggelora. Sayang sekali kalau disia-siakan begitu saja!
Lalu tanpa disuruh tanganku mulai bergerak menjamah tubuh indah yu Darmi. Kutelusupkan tanganku dari bawah lengannya dan kudekap bukit payudaranya yang kenyal. Tanganku terus bergerak meraba dan meremas bukit payudaranya.
“Mhhh…” kudengar yu Darmi mulai melenguh dalam tidurnya. Ia mungkin mulai merasakan rabaan dan remasan tanganku di bongkahan bukit payudaranya.
Perlahan-lahan aku mulai merasakan betapa puting payudaranya mulai mengeras. Nah lo!! Ia rupanya mulai terangsang lagi. Aku semakin bersemangat menggerakkan tanganku meraba dan meremas bukit payudaranya secara bervariatif. Lidahku pun tak mau tinggal diam. Kujilati kuduknya yang jenjang dan ditumbuhi bulu-bulu halus.
Rupanya gesekan lidahku yang panas dan rabaanku di bukit payudaranya telah mengusik tidurnya yang sangat lelap.
“Ohhh….ughh..!” ku dengar yu Darmi mendesah karena perlakuanku itu. Aku semakin bernapsu untuk mencumbunya. Batang kemaluanku yang menekan ketat bongkahan pantatnya semakin mengeras saat ia menekan pantatnya ke belakang. Lidahku terus bergerak dari leher terus turun menyusur sepanjang tulang belakangnya. Tubuh yu Darmi semakin menggeliat dan seluruh bulu-bulu di tubuhnya berdiri karena mungkin ia kegelian.
Tanganku terus meremas dan meraba bukit payudaranya dengan semakin gemas. “Oughh…” yu Darmi tak henti-hentinya mendesah karena rangsangan yang kulakukan. Tangannya kemudian bergerak ke belakang dan mulai memegang batang kemaluanku yang menempel ketat di belahan pantatnya yang hangat. Dengan perlahan ia mulai mengurut dan meremas batang kemaluanku.
“Ohhsss…” kini aku yang mulai mendesah menahan nikmat akibat remasan tangan yu Darmi yang halus di sepanjang batang kemaluanku. Remasan tangan yu Darmi semakin cepat saat tanganku yang tadinya bermain-main di bukit payudaranya bergeser turun dan mulai menggosok gundukan bukit kemaluannya yang penuh ditumbuhi rambut yang cukup tebal. Jariku mulai menyusuri celah hangat di tengah bukit kemaluannya yang sudah mulai basah.
“Ter..rushh..ouchhh…ssttt..eshhh” yu Darmi berkali-kali mendesah seperti orang kepedasan saat jari-jariku dengan lincah berputar-putar di atas tonjolan kecil di ujung atas lubang kemaluannya yang sudah sangat licin. Tubuhnya meliuk-liuk dan kadang-kadang pantatnya didorong ke depan seolah-olah menyongsong dan mengejar jari-jariku.
Aku pun semakin terangsang saat kocokan tangan yu Darmi semakin cepat mengocok batang kemaluanku dan kadang-kadang ditekankannya ke bukit kemaluannya dari sela-sela bongkahan pantatnya. Ia melakukannya sambil mengangkat salah satu kakinya dan menopangkannya ke pahaku.
“Ughh…” aku melenguh nikmat ketika ujung batang kemaluanku digosok-gosokkan ke bibir kemaluannya yang merekah hangat. Pantat yu Darmi didorong ke belakang sehingga ujung kemaluanku yang dipegangnya agak melesak ke dalam bibir kemaluannya. Hangat sekali rasanya!
Tanganku terus berputar memainkan tonjolan daging di bukit kemaluannya. “Ohhhh…terr..usshhh …ohhhhh” yu Darmi terus mendesis dan semakin liar menggerakkan pantatnya. Jari-jariku terus bergerak liar menggosok dan memutar tonjolan daging kecil itu.
Tubuh yu Darmi semakin liar bergerak dalam pelukanku “Akhhhh…..” dengan diiringi lenguhan panjang, tubuh yu Darmi yang kupeluk terus berkelojotan. Akibatnya begitu hebat bagiku. Ujung kemaluanku yang sedikit melesak dalam kehangatan lubang kemaluannya menjadi semakin tergesek nikmat. Aku merasakan sensasi yang hebat. Aku seperti tersiksa dalam nikmat sampai akhirnya tubuh yu Darmi terdiam dalam pelukanku. Napasnya menggemuruh seperti baru saja berlari keliling lapangan. Aku biarkan ia mengatur napasnya sambil tetap kupeluk erat tubuh telanjangnya. Sementara batang kemaluanku masih menempel ketat di belahan bibir kemaluannya yang sudah sangat basah dan licin.
Selang beberapa saat kemudian kubalikkan tubuh yu Darmi ke menghadap ke arahku. Kini kami saling berbaring berhadapan dalam keadaan telanjang bulat di atas tempat tidur empuk. Aku yang belum mencapai orgasme segera melumat bibir yu Darmi yang sedikit terbuka. Ia segera membalas lumatan bibirku dengan menggesek-gesekkan lidahnya menyapu bibirku. Kami kembali saling berpagutan di pagi yang dingin itu.
Tanganku yang bebas segera bergerak ke arah bukit payudaranya dan mulai meremas bukit payudara yu Darmi yang hangat dan empuk itu.
“Mphh….” yu Darmi menggumam saat tanganku dengan lincah memainkan puting payudaranya. Tangan yu Darmi pun tak mau tinggal diam. Tangannya segera bergerak ke arah selangkanganku dan mulai meremas dan mengocok batang kemaluanku yang sudah sangat keras dengan lembutnya.
“Ughhh…” aku melenguh nikmat merasakan kelembutan jemari yu Darmi yang bergerak lembut sepanjang batang kemaluanku. Bahkan tangannya sesekali meremas kantung pelirku sehingga menimbulkan kenikmatan yang tiada tara. Kami saling berpagutan dan saling meremas selama beberapa saat.
Karena tak kuat lagi menahan gejolak napsu akibat remasan yu Darmi di batang kemaluanku, aku segera mendorong tubuhnya hingga posisinya kini terbaring telentang. Aku mengubah posisiku hingga sekarang aku menindih tubuh telanjangnya yang menggairahkan. Bibirku mulai bergerak turun ke lehernya yang jenjang. Kujilati seluruh kulit lehernya yang licin hingga ia menggelinjang dan mulutnya tak henti-hentinya mendesah seperti orang kepedasan.
“Ohh…shh…stth…ohhsss..” yu Darmi terus merintih sementara kedua tangannya dirangkulkannya di balik punggungku. Lidahku terus menjelajahi setiap jengkal kulit lehernya yang putih jenjang sambil sesekali kugigit pelan-pelan. Rupanya perbuatanku ini membuat ia kembali terangsang hingga tubuhnya terus menggelinjang dalam dekapanku.
Perlahan namun pasti, lidahku terus bergerak ke bawah hingga ke arah bukit payudaranya yang montok dan kenyal itu.

“Hap…” dengan gemas kulahap bukit payudaranya hingga mulutku penuh. Kusedot dan kumainkan puting payudaranya dengan lidahku hingga yu Darmi semakin mendesis.
“Ohh…ter..rushhh mass…ohhh” mulutnya tak henti-hentinya mendesis saat puting payudaranya kumainkan dengan lidahku. Kedua tangannya menekan belakang kepalaku hingga semakin ketat menekan bukit payudaranya. Tanganku pun tak mau tinggal diam. Tanganku bergerak turun ke bawah menyusuri bagian samping pinggang yu Darmi i yang ramping hingga ke arah pinggulnya dan meremas-remasnya dengan gemas.
Tanganku terus bergerak menyusuri pinggul yu Darmi turun ke arah lututnya dan perlahan-lahan naik ke pahanya yang mulus dan kencang. Desisannya semakin keras saat tanganku mulai menyentuh gundukan bukit di selangkangannya yang sudah sangat basah setelah orgasme tadi. Gesekan tanganku di selangkangannya rupanya telah membangkitkan kembali gairah napsu yu Darmi.
Jilatan lidahku terus menyusuri inci demi inci seluruh permukaan perutnya yang masih cukup kencang. Tubuh yu Darmi melonjak-lonjak dalam dekapanku saat kusedot-sedot perut bagian bawahnya dengan cara menghentak-hentak. Ia terus menggeliat menahan geli sementara perutnya nampak mengejang. Napasnya menderu seperti orang baru berlari keliling lapangan.
“Shh….ouch… shh…aakhhhh…”
Tubuh yu Darmi menggeliat semakin liar dalam dekapanku saat lidahku mulai menyentuh gundukan bukit di selangkangannya yang sudah sangat basah.
“Aduhh….oooughh…” yu Darmi semakin menceracau saat lidahku dengan buasnya mulai menyusuri celah hangat di belahan bukit kemaluannya. Tangannya segera merangkul bagian belakang kepalaku dan menekankannya keselangkangannya. Kedua pahanya semakin dikangkangkannya selebar mungkin untuk memberiku akses penuh menjelajah bukit kemaluannya.
Lidahku terus mengais-ngais di celah hangat bukit kemaluannya hingga kutemukan tonjolan daging di bagian ujung atas bukit kemaluannya yang tembam itu. Hal ini membuat yu Darmi semakin blingsatan. Ia berusaha menarik tubuhku agar menghentikan hisapan bibirku di klitorisnya.
Aku yang sudah sangat bernapsu tak mau begitu saja menyerah pada keinginannya. Tanganku segera memegang tangannya dan menekannya ke kasur hingga ia tak bisa berkutik. Akhirnya ia hanya pasrah saat kusedot dan kukilik-kilik klitorisnya dengan lidahku hingga ia pun menggelepar.
“Akhhh…massss….akhhhhhh…” tubuhnya mengejang dan kedua pahanya menjepit kepalaku. Ia kembali memperoleh orgasmenya untuk yang kedua kali di pagi buta itu.
Aku yang belum memperoleh orgasme segera menempatkan tubuhku sejajar dengannya. Kucocokkan batang kemaluanku yang sudah sangat kencang ke lubang hangat di gundukan bukit kemaluannya. Dengan perlahan kodorong pantatku sehingga batang kemaluanku menyeruak ke dalam jepitan lubang kemaluan yu Darmi yang sudah sangat licin.
Blesss….seluruh batang kemaluanku akhirnya tertelan di dalam lubang kemaluan yu Darmi. Aku diamkan selama beberapa saat untuk merasakan sensasi menyatunya tubuh kami. Kupeluk tubuh telanjang yu Darmi dengan erat. Kedua kaki yu Darmi segera disilangkan di belakang punggungku dengan tumitnya ditekankan pada pantatku. Hangat sekali rasanya tubuh yu Darmi. Hujan yang lebat mengguyur di luar semakin menambah kehangatan kami.
Yu Darmi terdiam beberapa saat, lalu tahu-tahu kurasakan batang kemaluanku seperti disedot oleh lubang kemaluannya yang hangat dan licin.
”Ough….” aku tersentak rasanya mau meledak tubuhku merasakan denyutan di lubang kemaluan yu Darmi. Batang kemaluanku seperti dijepit oleh tanggam yang empuk dan hangat dan tidak bisa kugerakkan. Aku merasakan seperti ada
cincin yang mengikat ujung kepala kemaluanku di dalam lubang kemaluan yu Darmi.
Mendapat rangsangan itu perlahan ahan aku mulai mengayunkan pantatku naik turun di atas tubuh yu Darmi. Ayunan pantatku menyebabkan batang kemaluanku mulai bergerak keluar masuk menyodok-nyodok lubang kemaluan yu Darmi. Aku merasa nikmat sekali setiap kali ujung kemaluanku masuk ke dalam jepitan cincin hangat di dalam lubang kemaluan yu Darmi.
Aku mulai mengayunkan pantatku naik turun. Batang kemaluanku
menggesek-gesek dinding lubang kemaluan yu Darmi. Mula-mula lambat lalu semakin lama semakin cepat. Ada rasa nikmat luar biasa setiap kali aku menusukkan batang kemaluanku dan menariknya lagi. Aku semakin cepat dan semakin keras
mengocok lubang kemaluan yu Darmi.
”Ugh…ugh….” aku terus memacu semangatku menggenjot lubang kemaluan yu Darmi yang semakin licin.
Lama-kalamaan aku merasakan lubang kemaluan yu Darmi semakin licin dan cenderung becek karena terlalu banyak cairan keluar dari lubang kemaluannya. Aku segera mencabut batang kemaluanku dan mengelap lubang kemaluan yu Darmi dengan ujung seprei agar sedikit lebih kering.
Kemudian kuposisikan yu Darmi agar merangkak di kasur dengan perut kuganjal bantal. Indah sekali pemandangan yang kulihat. Pantat yu Darmi yang penuh dan bulat mencuat ke atas dengan lubang kemaluan yang menggembung seperti yoyo. Wajahnya menelungkup ke kasur dan ia merangkak dengan bertelekan kedua lututnya.
Aku segera menempatkan diriku di belakang yu Darmi dan berdiri di atas lututku. Aku kemudian mencucukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya dari arah belakang.
Blesss….kembali batang kemaluanku menerobos kehangatan liang kemaluan yu Darmi. Kali ini dari arah belakang. Kodorong terus pantatku hingga tulang kemaluanku menumbuk bongkahan pantatnya dan ujung kemaluanku menumbuk mulut rahimnya. Aku kembali merasakan ada semacam cincin hangat yang menjepit ujung kemaluanku di dalam sana. Kudiamkan batang kemaluanku terjepit selama beberapa saat.
Kulihat kepala yu Darmi terdongak ke atas ketika ujung kemaluanku menumbuk mulut rahimnya. Kemudian perlahan-lahan yu Darmi mulai menggerakkan pantatnya memutar sehingga kembali batang kemaluanku seperti dipilin oleh kehangatan lubang kemaluannya. Aku pun ikut mengimbangi ayunan pantat yu Darmi dengan memutar pantatku berlawanan arah.
”Ouch…..masss….terusshh masss….” yu Darmi mulai merintih dan salah satu tangannya bergerak ke belakang meraih pantatku dan ditariknya agar lebih ketat menekan ke depan.
Aku paham apa yang diinginkannya. Aku segera menambah tekanan dengan mendorong pantatku ke depan. Kedua tanganku segera meraih pinggulnya dan menarik ke belakang.
Tubuh kami terus berkutat dan saling memutar pantat berlawanan arah. Mataku mulai membeliak merasakan betapa batang kemaluanku seperti digiling oleh kehangatan lubang kemaluan yu Darmi itu.
”Terus yuuuu…ough….ter….russhhh” aku menggeram dan mencengkeram pinggul yu Darmi semakin ketat. Aku merasakan betapa dorongan semakin kuat muncul dari perutku dan mulai mengalir ke batang kemaluanku.
”Uhhh…ayo maaasshhh….aduhhh….” yu Darmi semakin liar memutar pantatnya dan tubuhnya mulai menegang.
”Ughh…yu…aku…aargh….” aku merasakan bahwa sesuatu meledak dari ujung kemaluanku. Yu Darmi pun mulai berkejat-kejat.
”Akhhh…massshhh”…ia merintih seolah sedang melepaskan sesuatu yang amat nikmat.
Crut…crrrt…crrt…aku merasakan air maniku tertumpah tanpa dapat dicegah lagi. Kali ini sangat dalam menyiram mulut rahim yu Darmi. Kami terus bergerak menuntaskan sisa-sisa kenikmatan. Akhirnya tubuhku ambruk menindih punggung yu Darmi. Tubuh kami pun tidak bergerak. Hanya napas kami yang terdengar masih menggebu-gebu seperti habis mengangkat beban yang sangat berat.
Kubiarkan saja batang kemaluanku terjepit di dalam kehangatan lubang kemaluan yu Darmi. Kupeluk tubuh telanjangnya dan kucium pipinya dengan mesra.
”Terima kasih yu….sampeyan benar-benar hebat” kubisikkan pujian di telinganya dengan mesra.
”Sampeyan juga hebat mas Ardi…aku sampai lemas sekali” ia pun membalas mesra sambil tangannya mengelus-elus pantatku.
Lama-lama batang kemaluanku terlepas dengan sendirinya dari jepitan lubang kemaluannya. Aku melihat betapa air maniku sebagian menetes dari lubang kemaluan yu Darmi dan membasahi bantal yang kugunakan untuk mengganjal perutnya. Aku segera mengambil ujung seprei dan membersihkan bukit kemaluannya dari cairan sisa-sisa pergumulan tadi.
Sesaat kemudian kugulingkan tubuh telanjang yu Darmi hingga berbaring terlentang. Aku sendiri pun berbaring di sisinya. Kami kembali tertidur sambil berpelukan dalam keadaan masih telanjang bulat.
Kami terbangun saat terdengan adzan shubuh. Dengan malas kami pun mandi bersama dan mengakhiri kebersamaan di pagi itu dengan persetubuhan di kamar mandi.
Setelah mengantar yu Darmi ke rumahnya untuk mengambil susu, kami pun kembali ke kota ku. Aku menurunkan yu Darmi di terminal dan kembali ke rumahku.
Seminggu kemudian kami pun berkesempatan untuk melakukan hubungan badan di penginapan yang sama. Hal itu terjadi setelah kami mengantar kang Sarjo pulang dari rumah sakit. Dengan berdalih mau menyelesaikan pembayaran, yu Darmi ikut pulang belakangan denganku sedangkan kang Sarjo sudah dibawa pulang terlebih dahulu oleh kakak yu Darmi yang mempunyai mobil.
Kami menyelesaikan administrasi rumah sakit secepat mungkin dan kembali mampir di penginapan yang sama sebelum mengantar pulang yu Darmi. Saat itu kami hanya dapat menyelesaikan satu ronde permainan sebelum kuantar yu Darmi pulang ke desanya.

Bersambung : Yu Darmi 3 : Perselingkuhan yang Direstui






Related search

Related Posts

Comments are closed.