Kontrakan Birahi 3

Kontrakan Birahi 3by adminon.Kontrakan Birahi 3“Bentar mas… adek mau beli pembalut dulu…” kataku ke mas Andri, suamiku. “Pembalut? Loh bukannya kemaren kamu baru saja selesai mens…” tanyanya “Iya mas… mungkin adek kecapekan jadi siklus mens adek agak kacau…” Mas Andri langsung memeluk tubuhku “Tuuhh….khaaaannnn… kamu sih terlalu memforsir tubuhmu…jadi sampai sakit gini…udah, besok mas carikan kamu pembantu buat ngurusin rumah” […]

Kontrakan Birahi “Bentar mas… adek mau beli pembalut dulu…” kataku ke mas Andri, suamiku.

“Pembalut? Loh bukannya kemaren kamu baru saja selesai mens…” tanyanya

“Iya mas… mungkin adek kecapekan jadi siklus mens adek agak kacau…”

Mas Andri langsung memeluk tubuhku “Tuuhh….khaaaannnn… kamu sih terlalu memforsir tubuhmu…jadi sampai sakit gini…udah, besok mas carikan kamu pembantu buat ngurusin rumah” katanya sambil mengecup keningku.

“Ahh…nggak usah mas…adek masih bisa kok…masih kuat mengurus rumah…adek cumin butuh waktu buat menyesuaikan diri sebagai ibu rumah tangga”

“Tapi kalau kamu sampai sakit gini dek…mas nggak tega ngelihatnya”

“Udah ah…mas nggak perlu khawatir…adek pasti bisa”

“Yakin?”

“Iya mas…adek yakin…jangan anggep adek seperti anak kecil ahhh…adek khan sudah jadi wanita dewasa yang bisa mengurus dirinya dan suaminya dengan baek…”

“Hhhmmm…oke lah kalau itu mau kamu dek…” kembali mas Andri mengecup keningku.

“Udah ah mas…adek malu mas cium-ciumin mulu…banyak orang yang ngliatin tuh”

“Yeeeeeeee….kamu khan istriku dek, wanita pendamping hidupku, kenapa harus malu? Mereka cuman iri aja ngliat aku bisa mendapatkan istri bak bidadari sepertimu…hahahahaha…” kata mas Andri sambil diam-diam meremas pantat bulatku lalu tertawa lantang.

Mendengar suamiku tertawa lantang seperti itu membuatku sedikit merasa bersalah, tidak, merasa sangat bersalah. Aku telah mengkhianati sumpah pernikahan kami. Sumpah suci dihadapan penghulu, wali dan saksi. Ikrar setia sehidup semati ketika kami menikah terkesan hanya sebatas ucapan biasa. Bagiku, semua sumpah itu seolah hilang, sirna begitu saja ketika nafsu bersetubuhku dengan orang lain muncul. Dua bulan belakangan ini, aku telah bermain api dengan mas Manto, suami tetanggaku. Terbakar oleh api asmaranya, api cintanya, api nafsunya yang selalu mendidihkan birahi dan menghilangkan pikiran warasku. Panasnya api itu, semakin lama mengubah sosokku dari Liani lama yang setia, menurut, kalem, menjadi Liani baru yang sering berbohong, suka berdebat, dan liar. Mengubahku menjadi menjadi Liani sinting, yang tanpa berpikir panjang telah berselingkuh dengan suami tetangganya dan rela memberikan sebagian sayang serta cintanya kepada lelaki lain selain suaminya. Liani sang pelacur murahan, yang telah merelakan tubuh dan seluruh aurat terlarangnya untuk dapat dinikmati oleh lelaki lain tanpa meminta imbalan sedikitpun. Liani sampah, yang tak menolak untuk dipermalukan dan diperlakukan tak senonoh oleh lelaki yang baru dikenalnya beberapa saat lalu

“Berapa totalnya mbak?” Tanya mas Andri sambil mengeluarkan kartu debit dari dompetnya.

“Delapan ratus enam puluh empat ribu rupiah pak” jawab wanita penjaga kasir sambil tersenyum ramah.

“Itu sudah termasuk pembalut barusan?” Tanya mas Andri lagi

“Sudah pak”

Pembalut. Kembali rasa bersalah itu menghampiriku. Aku kembali teringat akan pertanyaan mas Andri barusan, mengenai siklus mensku yang tak menentu. Siklus mensku sebenarnya teratur, bahkan sangat teratur. Selalu datang setiap akhir bulan, sekitar tanggal 25 atau 26. Namun mengapa ditengah bulan seperti ini, aku membeli pembalut? Hal tersebut bukanlah dikarenakan siklus mens, melainkan……merinding, geli, dan sakit. Kurasakan sensasi ketika mas Manto mulai menggerakkan ibu jarinya keluar masuk di liang anusku.

“Dek”

“Hhmmmhh…yah mas?”

“Boleh nggak…?”

“Ouughhh…ssssshhh…apa?”

“Tapi adek jangan marah dulu”

“Iya iya…adek nggak marah”

“Janji?”

“Apaan sie?”

“Janji dulu”

“Iya adek janji ga bakalan marah mas Mantoku sayang… buruan mas Mau apa?”

“Mas pengen …” dihentikannya semua aktifitas yang mas Manto lakukan. Baik sodokan penis besarnya di vaginaku, maupun kelitikan ibu jarinya di lubang duburku. Mas Manto menarik nafas panjang dan berujar lantang penuh harap kepadaku.

“Mas pengen masukin kontol mas dipantat kamu”

Flashback. Teringat aku akan kejadian yang menyakitkan kemaren, kejadian dimana mas Manto memperawani lubang duburku. Walaupun pada mulanya aku menolak, namun entah kenapa pada akhirnya aku menganggukkan kepalaku. Mengijinkan lelaki yang bukan suami resmiku melesakkan penisnya menerobos gerbang anusku. Dengan semangat yang menggebu-gebu, mas Manto menghentikan gerakan menyodoknya, mencabut bonggol batang penisnya dari vaginaku yang masih berlumuran busa putih hasil pergumulan alat kelamin kami, lalu langsung menancapkan ke liang duburku.

“OOOUUuuggghhh….sakit mas…pelan-pelan” teriakku keras.

“Tenang dek… tahan sebentar…” ucapnya sambil meremas dan merenggangkan buah pantatku, berusaha membuka liang duburku lebar-lebar.

“Pelan-pelan mas…bo’ol adek sakit banget”

“Emang awalnya sakit dek…tapi lama-lama juga terasa enak kok…malah sangat enak…cuuhhhh” ucapnya sambil meludahi liar duburku.

Diusapnya sekeliling urat lubang pantatku yang berwarna kemerahan itu dengan jari kasarnya, mencoba melumasi sampai selicin-licinnya. Tak lupa, mas Manto juga meludahi sekujur batang penisnya agar coblosannya dapat ia lakukan dengan mulus. Dengan satu sentakan keras, mas Manto mendorong pinggulnya sekuat tenaga.

“EEeeggghhhh…”

Kucoba menahan rasa sakit yang menusuk tubuh bagian belakangku itu. Kupejamkan mataku dan kugigit dalam-dalam bibir bawahku supaya teriakanku dapat sedikit teredam. Kurasakan, ujung kejantanan mas Manto menggeliat-geliat, berusaha menerobos barisan urat duburku. Gumpalan daging kebanggaan mas Manto itu terasa bagai pentungan kayu yang begitu keras, begitu padat, yang sanggup menjebol pertahan sekuat apapun. Karena tak perlu waktu lama, lingkar urat duburku perlahan membuka, terkuak, dan tak sanggup menahan desakan kepala penis mas Manto yang berusaha masuk itu.

“CLEP” akhirnya, kepala penis mas Manto yang berukuran ekstra besar itu berhasil melesak masuk kedalam liang duburku. Sekuat tenaga, kucoba menahan rasa sakit yang menusuk tubuh bagian belakangku itu namun tetap, tak tertahankan.

“AARRrrggggghhhhh….stop mas… STOOOP!!!” teriakku “Berhenti sebentar mas” tambahku, sambil kembali menahan desakan maju pinggul mas Manto dengan tangan kananku.

Mendengar teriakan kesakitanku. Mas Manto menghentikan sejenak desakan pinggulnya. Membiarkan kepala penis dan setengah batang hitamnya menancap erat di lubang duburku.

“Pantat kamu peret banget dek” kata mas Manto sambil mengelus pinggangku perlahan.

“Sakit banget mas…” kataku.

“……………” mas Manto tak berkata apapun.

Rasanya sungguh LUAR BIASA sakit. Semua ludah, cairan vaginaku dan rangsangan jemari yang mas Manto lalukan beberapa saat lalu, sama sekali tak memberikan efek nyaman kepadaku, tak sedikitpun.

Kutengokkan kepalaku, dan kutatap raut muka suami baruku yang berada dibelakang sana. Seolah tak terjadi apa-apa, mas Manto hanya memiringkan kepalanya, dan tersenyum tenang. Perlahan, telapak tangan kasarnya mulai mengusap buah pantatku, meremas, sambil sesekali kembali menguak lubang duburku yang masih mencengkeram batang penisnya.

“Cuuuhhh…terusin ya dek?” pintanya lagi sambil kembali meludahi lubang duburku.

“……………” Aku tak menjawab.

“Dek? Dek Liani? Mas terusin yah…?” tanyanya lagi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, meminta persetujuanku.

“……………” kembali aku tak menjawab, hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca, meminta ampun darinya.

“Nggak boleh ya?…Yaudahlah…” mas Manto menghela nafas panjang dan mulai menarik separuh batangnya yang sudah tertanam di liang duburku. Pelan-pelan, batang hitam itu ditariknya keluar dari dalam duburku.

“OOOoohhhh” bulu kudukku tiba-tiba meringing. Detak jantungku tiba-tiba terasa berdetak lebih cepat lagi dan nafasku mendadak tersekat. Sesaat, kurasakan sensasi aneh yang belum pernah aku rasakan sepanjang hidupku. Rasa geli yang menggelitik, rasa gatal yang nikmat dan denyutan yang menggetarkan liang duburku, muncul seiring tarikan keluar batang penis mas Manto. Enak sekali. Spontan, kuremas paha kanan mas Mantoku, dan menghentikan gerakan mundur pinggangnya.

“Jangan mas…jangan dicabut…”

“Hoh??”

“Jangan dicabut mas…sodok bo’ol adek lagi…” ujarku sambil membungkukkan tubuhku kedepan. Semakin kulebarkan bentangan kakiku dan berpegangan erat pada bibir bak mandi.

“Bener dek?” tanyanya dengan nada riang, mirip anak-anak ketika baru saja mendapatkan mainan baru.

Kuanggukkan kepalaku pelan dan tersenyum kearahnya.

“Makasih ya dek Lianiku…makasih banget dek…cuuuuhhh”

Bak mendapat tenaga baru, mas Manto langsung menghentakkan pinggulnya maju sekeras-kerasnya. Melesakkan batang raksasanya kembali masuk dan menjebol liang duburku.

“ARRGGggg….Pelan-pelan mas…pelan-pelan” erangku namun eranganku terdengar tak berarti sama sekali.

Bak bercinta dengan mahluk tunarungu, mas Manto tak menghentikan desakan penisnya sedikit pun. Seolah sedang berlomba, sodokan penis mas Manto semakin kuat, pinggul kekarnya ia hentakkan maju sekuat mungkin. Mas Manto sepertinya lupa akan ukuran penisnya yang super besar itu. Rasa sakit, perih, panas, semua rasa negatif itu kembali berkumpul menjadi satu, seolah ikut masuk kedalam tubuhku melalui lubang duburku. Penuh sekali. Lubang duburku seolah dipaksa untuk merenggang selebar mungkin. Rasa yang teramat sakit itu semakin terasa, seiring dengan desakan kepala dan batang penis raksasa mas Manto ketika berusaha ia lesakkan jauh lebih dalam lagi. Erangku tak ia gubris, air mataku pun tak ia hiraukan. Sakit sekali. sampai kupukul-pukul kepalan tanganku ke bibir bak mandi tempat tanganku bertumpu untuk mencoba mengalihkan perhatian otakku ke sakit pada tanganku. Kugeleng-gelengkan kepalaku tanda penolakan yang amat sangat. Namun, sepertinya semua telah terlambat. Mas Manto telah tenggelam dalam kenikmatannya di surganya sendiri. Surga dalam jepitan lubang duburku. Dengan kedua tangan kasarnya, mas Manto mencengkeram samping pinggangku erat-erat, dan ia mundurkan paksa kearahnya, sehingga penis berukuran panjangnya itu semakin melesak masuk kedalam liang duburku. Sampai tiba-tiba kurasakan geli-geli rambut kemaluan dan tepukan lembut dua buah kantong zakar mas Manto pada bibir vaginaku.

“Uuuhh mentok dek…sumpah…peret sekali bo’ol kamu” lenguh mas Manto keenakan Sesaat, didiamkannya kembali penis besar itu didalam liang duburku.

“NYUT…NYUT…NYUT” Kurasakan pompaan darah di urat yang mengitari sekujur batang penis mas Manto berdenyut begitu hebat.

Karena seluruh batang panjangnya telah berhasil masuk seluruhnya kedalam liang duburku, mas Manto mulai memainkan kejantanannya. Mas Manto mulai menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur.

“OOoouuugghhh…”

Kembali kurasakan, kenikmatan garukan kepala penis mas Manto. Kepala penis miliknya itu menggaruk kasar dinding duburku, dan urat-urat yang mengitari sekujur batang penisnya juga ikut menggelitik bibir duburku. Nikmat sekali. Begitu batang penis itu tertarik sampai ujung, kembali mas Manto mencengkeram sisi pinggangku dan mendorong pinggulnya maju. Liang duburku kembali terasa begitu penuh dan menyesakkan perutku, namun entah kenapa, aku ingin merasakan bagaimana jika batang penis itu keluar masuk dengan cepat pada liang duburku. Ditarik, didorong, ditarik, didorong. Semakin lama, semakin cepat sodokan batang penis mas Manto pada liang duburku. Tak henti-hentinya mas Manto meludahi kelamin kami masing-masing sehingga penis dan liang duburku semakin basah oleh air liurnya.

“Enak banget dek…sumpah…peret banget…” desah mas Manto.

“Ooouuhhh” desahku juga, seolah menjawab pernyataan mas Manto barusan.

“Enak dek…?” tanyanya lagi.

“Hoo…. Ooouuhhh” jawabku sekenanya sambil menganggukkan kepalaku.

“Masih sakit?”

“Masih…” Kataku sambil menganggukan kepala “ Abisan kontolmu gedhe banget mas”

“Tapi enak khan…?”

Kuanggukkan kepalaku dan tersenyum kearahnya. Memang benar, pada akhirnya, akupun menyerah akan kenikmatan yang aneh pada lubang belakang tubuhku ini. Gelitikan dan garukan kepala penis mas Manto pada liang duburku, benar-benar beda. Mungkin karena belum terbiasa, kurasakan batang penis mas Manto terasa lebih geli ketika bermain di dubur, daripada di vaginaku. Dengan tangan kananku, aku mulai mempermainan putting susuku. Malah terkadang aku juga merogoh biji kelentitku guna menyeimbangkan kenikmatan yang kuraih dari rongga belakang tubuhku.

“Ouuggghh…terus mas…sodok memek adek lebih dalam lagi mas…enak banget” pintaku ke mas Manto.

Sepertinya sedikit-demi sedikit, aku mulai bisa melupakan akan rasa sakit yang semula menusuk lubang duburku. Dan perlahan aku pun mulai tenggelam dalam gelombang kenikmatan seiring dengan sodokan tajam penis panjang milik suami tetanggaku ini. Towelan jemariku pada biji kelentitku pun semakin cepat, hingga cairan vaginaku juga semakin banyak merembes mengalir membasahi paha dalamku. Sampai suatu saat, ketika sedang enak-enaknya menikmati perzinahan melalui liang duburku, aku dikagetkan oleh lenguhan mas Manto.

“Ooohhh…ooohh…ohhh…” teriak mas Manto tiba-tiba sambil menggerakkan pinggulnya keras keras dan menghujamkan tusukan batang penisnya ke pantatku.

“Ooooouuuuggggghhhhh…aku nggak kuat lagi dek…aku nggak kuat…”

“Tahan bentar mas…tunggu adek…adek juga pengen keluar” pintaku.

Kupercepat towelan pada biji kelentitku. Aku juga ingin segera mendapat orgasme pertamaku, orgasme yang kuperoleh dari lubang duburku.

“Tahan mas…adek juga pengen keluar bareng…”

Namun, sekuat-kuatnya mas Manto, akhirnya ia kalah juga. Kalah oleh sempitnya lubang duburku. Kalah oleh empotan dinding duburku. Kalah oleh jepitan dubur perawanku.

“Mas nggak kuat lagi dek … mas mau keluar …mas keluar…” teriak mas Manto lantang.

“CROOOT… CROOT… CROT…” enam semburan kencang sperma mas Manto langsung memenuhi liang duburku. Kali inipun kembali kurasakan sensasi yang berbeda. Cairan kenikmatan mas Manto terasa jauh lebih banyak dan lebih hangat daripada sebelumnya. Bukan hangat, melainkan cenderung lebih panas daripada saat menumpahkan spermanya di dalam rongga rahimku. Untuk beberapa lama, mas Manto mendiamkan goyangan pinggulnya, dan membiarkan penis panjangnya tertanam di liang duburku. Kurasakan batang penisnya berdenyut kencang, seiring dengan semburan sisa-sisa cairan spermanya. Nafas mas Manto memburu, badannya hangat, keringatnya menetes membasahi punggungku, dan detak jantungnya berdegub dengan kencang. Mirip seperti orang selesai melakukan olahraga.

“Bo’ol kamu enak banget dek…uuuuuuueeeeeeennnnnnnnaaaaaaaaakkkkkkk” ucapnya sambil memeluk dan mengecup punggungku dari belakang “makasie ya dek Lianiku…”

“Iya mas…kontol kamu juga enak banget…” jawabku “tapi kok cepet banget ya keluarnya kamu mas?…biasanya khan adek yang keluar duluan…baru setelah itu kamu?”

“Sumpah dek…jepitan bo’ol kamu kenceng banget…jadi mas nggak sanggup lagi menahan dorongan peju mas biar nggak keluar” ucapnya.

Diremasnya perlahan buah pantat putihku sambil sesekali dibukanya bongkahan pantat itu kesamping, memperlihatkan penis besarnya yang masih menancap dalam-dalam di lubang duburku.

“Bo’ol kamu memang nggak ada duanya dek…” pujinya.

“Halah gombal” jawabku singkat sambil tersipu malu.

“Aku sayang kamu dek…” ucapnya lagi “dah yuk…kita mandi trus bubu siang”

“Hah…? Kok bubu siang?”

“Loh? Khan ngentotnya udah selesai?”

Yeeeee….bentar dulu donk…adek khan belum dapet jatah keluar…” kataku sambil mengernyitkan hidungku ke arahnya.

“Hehehe…oh iya-iya…mas lupa…”

“Dasar babon”

“Heheheh…kamu tenang aja dek…sehabis mas istirahat…kamu pasti dapet kok” ucap mas Manto sambil memamerkan deretan gigi kuningnya.

“Enak aja…nggak pake istirahat-istirahatan…” ketusku “nanggung nih…adek udah nggak tahan…buruan sodok lagi sekarang”

“Waduh…bentaran aja dek…kontol mas bisa kering kalo langsung digenjot begini”

“BODO…Awas aja sampai nggak…adek bakal cincang kontol kamu mas”

“Aduh…jangan donk…” pintanya “Istirahat bentar yak?”

“Hmm……” kupikir, ada benarnya juga saran suami baruku ini. Sudah hampir 3 jam kami memburu kenikmatan ragawi. Semenjak pukul 9 sampai sekarang, hampir jam 12 kami berlomba-lomba mendapatkan kenikmatan, mungkin memang ini waktu yang tepat untuk sedikit beristirahat.

“Ya udah…tapi bener loh…AWAS kalo nggak!!” ancamku.

“Siap tuan putri…hamba mandi dulu yah…”

Perlahan, mas Manto mulai menarik penisnya yang mulai mengecil itu. Kurasakan, seiring tarikan penis mas Manto, cairan spermanya pun ikut merembes keluar dari lubang duburku. Geli akan gelitik kepala penisnya ketika mas Manto cabut dari liang duburku, serta rasa sakit pada dinding duburku, membuat bulu kudukku merinding.

“Sensasi nikmat persetubuhan yang aneh…” batinku dalam hati.

Namun ketika aku masih terlena akan kenikmatan baru pada liang duburku, tiba-tiba, kami berdua dikagetkan oleh cairan hangat berwarna putih kemerahan yang keluar seiring tarikan batang penis mas Manto dari dalam liang duburku. Kulihat kebelakang ke arah pantatku, dan dengan tangan kananku, kuraba cairan hangat yang merayap turun melalui pahaku…

“DEG” Jantungku seolah berhenti berdetak.

Jemari tanganku belepotan oleh cairan berwarna kemerahan. Otak sehatku langsung berpikir keras, mencari tahu apakah cairan merah tersebut. Ternyata, setelah kuamati, sepertinya anusku berdarah. Mendadak, kurasakan rasa yang amat sakit, perih, panas dan seperti terbakar. Liang anusku robek, dinding anusku pasti tak mampu menerima penuhnya desakan batang penis mas Manto yang ekstra besar itu. Melihatku lubang pantatku berdarah mas Manto panic, buru-buru ia menarik paksa batang penisnya untuk dapat segera keluar dari liang pantatku. Karena tanpa persiapan, begitu kepala penis mas Manto berhasil seluruhnya tercabut, kembali rasa sakit itu menghampiriku.

“PLOP!”

“OOUuuuugggghhhh” Sakit sekali.

Cairan berwarna merah langsung mengucur seiring keluarnya penis besar mas Manto dari lubang anusku. Batang penis yang begitu besar itu meninggalkan rongga anusku terbuka dan menganga lebar.

“Sepertinya susah untuk dapat mengatupkan kembali bibir duburku…” batinku.

***

“Dek…kok diam saja” Tanya mas Andri sambil melambai-lambaikan tangannya didepan mukaku. Pertanyaan suamiku itu langsung membuyarkan segala lamunanku.

“Eh…ke…kenapa mas?” jawabku gugup.

“Ini belanjaannya sudah semua…” ujarnya lagi sambil tersenyum lebar.

Senyum mas Andri begitu tulus. Ingin rasanya aku bersujud di kaki mas Andri tuk meminta maaf. Aku merasa seperti pelacur murahan, yang menjajakan kenikmatan liang tubuhnya kepada setiap lelaki yang lewat. Bak sampah yang sangat tak berharga, aku merasa hina berdampingan dengan orang sebaik mas Andri, suamiku.

“Yuk…kita pulang… “

Aku hanya mengangguk. Andai lidah bisa berkata, andai bibir bisa bercerita.

“Maafkan adek mas…sudah membohongimu…sudah menyelingkuhimu”

“Maafkan adek mas…sudah membiarkan tubuh sucinya ini dilihat…disentuh…dan dinikmati oleh laki-laki lain…”

“Maafkan adek mas…jika sangat menikmati perzinahan yang adek lakukan”

“Maafkan adek mas…”

***

Tak terasa, sudah hampir seminggu waktu berlalu semenjak kejadian anal dengan mas Manto. Tubuhku pun sudah kembali fit, tak lagi perlu memakai pembalut guna mencegah darah yang merembes keluar dari lubang duburku. Cara berjalanku pun sudah normal, tak lagi mengkangkang, mirip seperti bocah yang habis dikhitan. Dan empat pagi hari ini, akupun telah dapat melaksanakan semua tugasku sebagai istri dengan baik. Karena aku sudah dapat melayani hasrat birahi suamiku sepenuhnya. Gairah seksku yang beberapa hari kemarin sempat menghilang karena sakit yang kuderita pada duburku, perlahan mulai kembali lagi. Gatal di vaginaku pun mulai kembali membabi buta, ingin selalu disodok, ditusuk, dihujam oleh batang kejantanan pria. Mas Andri tampaknya mulai merasakan perubahan pada diriku. Suamiku sepertinya menyadari bahwa istri tercintanya berubah menjadi semakin liar, nakal, dan binal. Ucapan jorokku, pikiran kotorku, dan gaya bercintaku yang brutal, sedikit demi sedikit mulai diketahui mas Andri. Namun hal itu sepertinya bukanlah menjadi suatu masalah, karena sampai detik ini, mas Andri masih sayang dan mencintaiku apa adanya. Mas Andri pun, semenjak beberapa hari lalu, telah aku ijinkan untuk mencoba liang duburku. Liang belakang tubuhku yang semenjak awal pernikahan kami, ingin sekali ia jebol. Berulang kali suamiku mengucapkan kata sayang dan terima kasih, atas kado birahiku padanya. Ia benar-benar menyukainya. Begitu pula denganku, sepertinya aku sudah mulai terbiasa untuk menggunakan asset tubuh belakangku yang satu ini. Malah sepertinya, aku sudah mulai menikmati nikmatnya bersodomi.

***

Pagi itu, tubuh bagian bawahku kembali basah untuk kesekian kalinya. Cairan kenikmatanku merembes keluar dari bibir vaginaku, dan sperma kental suamiku juga sedikit demi sedikit ikut menetes keluar dari liang duburku. Cairan kenikmatan kami sama-sama merayap, mengalir turun melewati paha dalam dan betisku. Sekarang, tak ada darah, tak ada sakit, hanya kenikmatan yang kurasakan dari kedua liang tubuhku. Dari balik terali jendela, kutatap mobil kerja mas Andri yang perlahan menghilang di balik tikungan komplek perumahan kami. Ya, mas Andri telah dipercaya kantor untuk dapat menggunakan fasilitas kantor, dan dalam beberapa waktu belakangan ini, karir suamiku melesat begitu pesat. Namun seiring dengan pesatnya perkembangan karir suamiku, aku menjadi sedikit ia lupakan. Mas Andri menjadi semakin gila akan bekerja, berangkat semakin pagi dan pulang semakin malam.

“Sudahlah… toh semua itu juga demi kebahagiaan kami berdua” batinku pasrah.

Kulihat keadaan sekitar rumahku. Sepi, hanya ada beberapa balita yang sedang bermain, berlarian di lapangan rindang yang ada di tengah-tengah komplek perumahan kami. Ibu-ibu terlihat sibuk, berlarian kesana kemari sambil membawa mangkok nasi dan menangkapi anak-anak mereka untuk disuapi, sungguh seru melihat tingkah mereka. Tak jauh dari tempat ibu yang sedang menyuapi anak-anaknya, duduk ibu-ibu hamil yang juga sedang tertawa-tawa. Membahas gossip dan nasib mereka masing-masing. Ingin rasanya aku keluar dari rumah ini, dan ikut bergabung dengan mereka. Bergosip dengan sesama wanita, mirip semasa aku masih duduk di bangku kuliah dulu. Walau sekarang mungkin apa yang digosipkan jauh berbeda dengan masa-ku dulu, tapi paling tidak aku bisa menghabiskan waktu senggangku ketika sendirian dirumah seperti ini. Namun ketika sedang melihat keasyikan mereka, tiba-tiba aku merasa pesimis, minder, dan iri. Kutatap tubuhku polosku ini. Tubuh ramping yang masih menebarkan aroma segar persetubuhan pagiku dengan suamiku. Tubuh yang masih meneteskan sisa-sisa sperma dari liang vagina dan duburnya.

“Kapan ya aku bisa hamil? Kapan ya aku bisa memiliki momongan? Kapan ya aku bisa bermain dan bercanda dengan buah hatiku?” tanyaku dalam hati.

“Aku juga ingin memiliki gundukan besar yang menempel didepan perut, berisikan janin hasil cintaku dan suamiku…memiliki tubuh gemuk nan cantik, khas tubuh ibu-ibu hamil… mengidamkan sesuatu yang dapat merepotkan suamiku…”

Sudah lebih dari 3 tahun aku dan mas Andri menikah, namun sampai detik ini, belum ada tanda-tanda tentang kehamilanku sama sekali. Aku hanya bisa mengelus perut rataku, dan menghela nafas panjang. Kuambil daster tipis dan celana dalam yang teronggok merana disudut sofa ruang tamuku dan mulai kukenakan lagi satu persatu. Aku merasa mulai jenuh dengan kondisi yang sepi di siang hari seperti ini. Setelah tugasku sebagai istri selesai, sepertinya tak ada lagi yang bisa aku lakukan. Semua acara TV pun sepertinya tak layak tonton, karena hanya berisikan sampah dan curhat masyarakat. Sinetron ulangan yang tak bermutu, ditambah iklan murahan yang selalu menghipnotis pemirsa untuk segera membelinya. Aku bosan. Satu-satunya kegiatan yang bisa membuat waktu cepat berlalu adalah, tidur siang. Kubiarkan tubuhku terlempar dan membal diatas kasur empukku. Kurentangkan tangan dan kakiku lebar-lebar sambil menatap langit-langit kamar tidurku. Di tengah kesunyian yang begitu membosankan ini, kembali terlintas ingatan mesum ketika aku bersama suami tetanggaku. Bersamanya, siang hari tak pernah menjadi begitu membosankan. Bersamanya, siang selalu menjadi saat yang paling mengasyikan, saat yang paling ditunggu-tunggu dan tak ingin segera berlalu. Namun sekarang, semenjak kejadian “siang berdarah” itu, entah kenapa, sudah seminggu ini mas Manto tak kelihatan sama sekali. Kupejamkan mataku, berharap dewa mimpi khan segera menghampiriku, dan mengajakku berkelana di alam mimpinya. Kembali aku menghela nafas. Mungkin mas Manto sudah melupakanku.

***

Suatu sore, sepulang mas Andri kerja, ia sengaja menyempatkan waktu dan mengajakku refresing untuk makan malam diluar. Dengan mobil kerja milik kantor mas Andri, kami menyusuri jalanan kota. Mencari-cari makanan yang pas untuk menemani sore yang mendung ini.

“Bakso atau soto dek?”

“Hmmmm…soto deh kayaknya mas…adek laper banget”

“DEPOT SAMIDI…” teriak kami berdua spontan sambil tertawa lantang. Kami berdua memikirkan hal yang sama

“Oke deh cantik… segera meluncur…” katanya sambil mencubit hidung mungilku.

Tak lama, mobil yang kami naiki segera masuk ke halaman depot soto terenak di kotaku. Depot Samidi, depot andalan kami ketika ingin memanjakan lidah. Depot itu sebenarnya depot biasa yang menjual semua jenis makanan. Mirip warteg, namun masakan yang paling tenar adalah sotonya. Dan hal itulah yang membuat depot Samidi selalu ramai dikunjungi pembeli. Setelah memarkir mobil, kami segera masuk dan mencari tempat duduk. Pak Samidi, pemilik depot segera menyambut kedatangan kami, ia segera menyuruh anak buahnya mengantar kami ketempat duduk yang masih kosong. Kami mendapat tempat duduk di bagian paling ujung dan tepat disamping jendela yang menghadap ke area parkir. Tak berapa lama, setelah kami selesai memesan makanan, tiba-tiba aku lihat dari kejauhan ada sepasang suami istri dengan motor bututnya, masuk ke halaman parkir depot Samidi.

“Itu mas Manto dan mbak Narti” dadaku mendadak berdegup dengan kencang.

Jantungku langsung memompa darah ke sekujur tubuhku dengan cepat. Badanku pun memanas. Entah kenapa aku gugup, bingung, dan tak mampu berpikir.

Pasangan suami istri itu segera turun dan berjalan kearah pintu masuk depot. Mas Manto dan mbak Narti celingukan mencari lokasi tempat duduk yang kosong. Sampai pada akhirnya, mas Manto langsung dapat mengetahui lokasi kami berdua.

“Eh dek… itu sepertinya mas Manto dan mbak Narti ya?” Tanya mas Andri yang ternyata juga melihat kedatangan mereka.

“Sepertinya bener deh mas…” jawabku.

Langsung saja mas Andri melambaikan tangannya kearah mereka “Kita ajak aja mereka bergabung kemari”

Pasangan suami istri itu sadar jika mereka sedang kami bicarakan. Karena tak lama, mbak Narti segera membalas lambaikan tangan suamiku. Digandengnya tangan mas Manto dan langsung berjalan ke arah kami.

“Waah…ada mas Andri dan mbak Liani….” Sapa mbak Narti “Kok tumben makan-makan disini …?”

“Hehehehe… iya nih mbak… mumpung saya bisa pulang agak sorean, jadi disempet-sempetin deh buat makan bareng Liani…” jawab suamiku “Yah itung-itung mengingat masa pacaran dulu….ayo gabung mbak…”

“Waduh terima kasih… jadi ngrepotin…”

Mas Andri beranjak dari duduknya “Justru saya yang merasa nggak enak kalo mbak sama mas sampai menolak“ ucap mas Andri berdiri sambil mempersilakan mbak Narti duduk “Udaaaah duduk aja dulu… yuk mbak… mas…”

Meja tempat kami makan berisikan 4 kursi plastic yang saling berhadapan dan bertaplak panjang. Aku yang duduk dekat jendela, berseberangan dengan mbak Narti. Dan mas Andri berseberangan dengan mas Manto. Tak lama, seperti teman lama yang bertemu kembali, kami saling bertukar cerita. Apa saja kami ceritakan.

“Ya ampun hampir lupa…Pak Sam (nama tenar pak Samidi) Soto specialnya lagi ya…dua…” teriak mas Andri lantang, sambil mengacungkan 2 jarinya “Super lengkap dan tambah lagi 2 teh botol ya…”

“Sssiiiiaaap bos…” jawab pak Samidi bakso tersebut sigap sambil menempelkan telapak tangan ke dahinya, mirip orang hormat ketika upacara.

“Wah sepertinya mas Andri sudah sering ya makan disini, sampai pak Samidi ngasih hormat kayak gitu…” ucap mas Manto sambil tersenyum lebar.

Kembali aku terpana melihat ‘ketampanan’ senyum mas Manto. Senyum menawan yang selalu membuat aku terlena. Kembali terlintas di memoryku. Saat-saat dimana sedang berasyik masyuk dengan mas Manto, saat ketika sedang bercengkrama dan bercinta, saat sedang mendaki lembah kenikmatan orgasme.

“Oh mas Manto”

“Bentar ya dek, mas tinggal dulu… mas mau ke toilet dulu…” kata mas Andri tiba-tiba, sambil mengecup pipiku.

“Eh…i…iya mas…” kagetku.

“Kamu layani saja dulu mas Manto dan mbak Narti ya dek…mas cuma bentaran kok” candanya sambil tertawa kearah kami bertiga dan berjalan menjauh kearah toilet.

“O iya mas…bentar ya…aku juga mau kewarung sebelah” pamit mbak Narti ”Mumpung makanannya belum datang…mumpung masih sore juga…khawatir tokonya tutup”

“Emang kowe mau ngapain dek?” Tanya mas Manto.

“Mau beli kantong kresek buat jualan besok” tambahnya lagi sambil buru-buru berjalan meninggalkan kami berdua.

Mas Manto

Hampir 5 menit, setelah kepergian pasangan kami masing-masing, tak terjadi sedikitpun komunikasi diantara antara kami berdua.

Sunyi. Tak terucap sepatah katapun. Ada sedikit rasa kikuk yang memagari kami berdua. Seolah kami adalah pacar lama yang telah lama putus, dan dipertemukan oleh nasib. Diam seribu bahasa. Aku hanya mengutak-utik handphone yang sedari awal tak kulepaskan dari genggaman tanganku.

“Aku kangen kamu dek…” ucap mas Manto pelan

Aku terdiam, kupegang erat-erat handphone yang ada di tanganku dan kutatap benda elektronik itu dalam-dalam.

“Dek…” tanyanya lagi.

Aku tak menjawab.

“Masih sakit ya…?”

Aku mengangguk pelan.

“Maafin mas ya dek…” ucap mas Manto dengan nada yang penuh perhatian “Mas khilaf…merasakan enaknya pantat kamu…mas jadi ga bisa berpikir waras”

“Ya sudahlah mas…” kataku pelan “Udah nggak kenapa-kenapa kok…adek sudah agak baikkan”

“Ya nggak begitu dek…mas merasa bersalah…sudah membuat kamu kesakitan seperti kemaren…sampe berdarah-darah gitu”

“Udah-udah tolong jangan membahas kejadian kemaren ya mas…adek jadi ngilu kalo mengingat kejadian itu…adek sudah sehat kok…” kataku sambil berusaha senyum kearah mas Manto.

Kasihan sekali melihat raut wajah jelek mas Manto, dia terlihat begitu tua. Hitam dan tak terawat, beda sekali dengan suamiku. Namun ada pesona dari pancaran mata dan senyumnya yang selalu membuat aku begitu sayang kepadanya.

“Maafin mas ya dek…”

Aku masih tak menjawab. Melihat kebisuanku, mas Manto yang semula duduk berseberangan dengan kursi mas Andri, menggeser pantatnya dan berpindah ke tempat duduk yang ada di depanku.

“Dek…maafin mas ya dek…” ulangnya.

Aku tetap terdiam

Tiba-tiba, aku merasakan sentuhan di ujung jari kakiku. Mas Manto mencoba mengalihkan perhatianku dengan menyenggol-nyenggol kakiku. Seolah mendapat sengatan listrik dari jemari kakinya yang kasar, darahku kembali berdesir. Kembali aku gugup akan tingkahnya.

“Dek Liani?” tanyanya lagi.

“……………” diamku.

Mungkin karena gemas melihatku tak menggubris semua pertanyaannya, mas Manto semakin berani mempermainkan jemari kakiku. Jemari itu mulai menyentuh punggung telapak kakiku. Merayap naik dan naik. Semakin naik keatas, kearah lututku.

“Mas jangan aneh-aneh…disini banyak orang…” jawabku singkat sambil berusaha memundurkan kursiku. Tapi sayang, hanya sedikit jarak antara sandaran kursiku dan tembok depot itu. karena begitu aku gerakkan mundur. “TUK” sandaran itu sudah membentur tembok. Tak mungkin lagi aku gerakkan mundur.

“Aku cuma mo minta maaf dek”

“Iya mas…iya…mas Manto sudah aku maafkan kok” jawabku singkat.

“Kalo udah dimaafin…Senyum donk dek…”pintanya.

“Udah ya mas…Ada mas Andri disini”

“Iya…tapi tolong…senyum dulu donk…biar hatiku tenang…dek Lianiku…istri baruku”

Seolah terkena mantra-mantra gaib dari mulut mas Manto, begitu mendengar kalimatnya barusan langsung membuatku kembali dimabok kepayang. Segera kusunggingkan senyum terlebarku. Aku tak kuat menahan rasa kangen di hatiku yang menggebu-gebu. Rasa kikuk itu tiba-tiba lenyap, hilang entah kemana. Walau mas Andri masih ada disekitar kami, hal itu kuanggap seperti bukanlah menjadi masalah untuk dapat kembali merajut benang-benang perselingkuhan antara aku dan suami tetanggaku. Terlebih ketika aku masih merasakan usapan jemari kasar mas Manto yang semakin naik ke lutut kakiku. Membuat nafsuku kembali mendidih. Jemari itu dengan sopan mengusap lutut dan berusaha untuk dapat masuk kedalam pahaku.

“Aku kangen kamu dek…”

Aku hanya tersenyum mendengarnya…

“Sumpah…nggak ketemu kamu seminggu ini rasanya seperti setahun” mas Manto mulai melancarkan rayuan mautnya “Aku kangen kamu dek… kangen istri baruku”

“Halah…gombal” jawabku lirih sambil tersenyum malu “Emangnya kamu kemana aja mas…seminggu tak telihat sama sekali?”

“Loh…Mas khan harus berganti shift kerja dek…” jawabnya sambil terus tersenyum “Seminggu kemaren…mas kena shift malam…jadi siangnya nggak bisa ngliat kamu”

Ternyata mas Manto tak menghindar dariku. Tugas satpamnya memang seperti itu, waktu kerjanya dibagi sedemikian rupa, supaya keamanan tempat mas Manto bekerja selalu terjaga 24 jam non stop.

“Kamu bener-bener cantik dek dengan daster tanpa tali seperti itu…Hijau pendek…mirip lemper…” rayunya memuji penampilanku ”Apalagi rambut panjang kamu digelung keatas… rrrrrrrr…mas nggak tahan kalo melihat tengkuk putihmu itu loh…” tambahnya lagi sambil ia goyang-goyangkan tubuhnya mirip orang kedinginan.

“Halah basssiiiiii…bisa aja ngegombalnya…”

“Bener dek…” mas Manto celingukan, melihat situasi disekitarnya lalu berbisik lirih kearahku “Kontolku sudah ngaceng dari tadi dek…pingin ngerasain jepitan apem wangi kamu lagi” ujarnya sambil tertawa mesum.

Layaknya orang pacaran, kami mulai bercanda. Saling lempar banyolan-banyolan. Saling towel dan saling cubit. Mas Manto semakin menggencarkan serangannya, ia majukan kursi makannya kearahku, supaya jemari kakinya dapat merogoh masuk kepahaku lebih dalam. Ia begitu nekat. Mungkin karena taplak meja makan depot Samidi yang tergerai agak panjang, mas Manto dapat dengan tenang melakukan perbuatan cabulnya terhadapku. Terlebih, karena meja tempat kami makan adalah meja terpojok dari depot ini, sehingga tak ada orang yang bakal memperhatikan perbuatan mesum yang ia lakukan. Dengan sekuat tenaga, aku tahan jemari kakinya dengan lututku. Mencegahnya supaya tak masuk lebih dalam lagi. Namun sia-sia, melihat kokohnya pertahananku, ia mulai menggerak-gerakkan jemari kakinya dan mencoba menggelitik lututku. Mas Manto benar-benar tahu kelemahanku. Aku dari dulu memang tak berdaya akan rasa geli. Gelitikan jemari mas Manto pada lututku, membuat pertahananku melemah, dan begitu ia sadar akan lututku yang telah sedikit terbuka, dengan cepat ia menyelinapkan jemari kakinya semakin masuk ke dalam pahaku. Dielusnya paha dalamku dengan punggung telapak kakinya. Digoyang-goyangkannya perlahan, sehingga membuat bulu kudukku merinding. Mendapat perlakuan erotis darinya, mau tak mau, jantungku semakin berdegup dengan kencang, nafasku memberat, dan mukaku memerah.

“Aku sayang kamu Lianiku ?” ujar mas Manto

Seolah menjawab dengan hal yang serupa, aku hanya menganggukkan kepala.

“Hayoooo….Kamu sange ya?…mukamu mulai merah loh”

Aku hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Melihat kenekatan mas Manto, tiba-tiba kenakalanku kembali muncul. Entah kenapa, tanpa ia minta, aku majukan kursi makanku ke arahnya. Kubuka kedua lututku lebih lebar dan mempersilakan jemari kakinya yang kasar untuk dapat masuk lebih dalam. Aku menginginkan jemari kakinya dapat menyentuh vaginaku. Tiba-tiba.

“Empat soto special dan empat teh botol” ujar pramusaji yang membawakan makanan pesanan kami.

Mas Manto menghentikan gerakan nakalnya. Seperti tak terjadi apa-apa diantara kami berdua, dengan santai ia berucap. “Eh makanannya sudah datang ya…taruh disini saja”

Ogie. Nama pramusaji itu, dengan cekatan meletakkan semua makanan pesanan kami. Menatanya sedemikian rupa dengan gerakan yang cepat. Nasi, soto, teh botol semua segera tertata rapi di depan kursi makan masing-masing. Namun.…“KLUTUK” tak sengaja, ia menjatuhkan satu botol koya yang ia bawa. Botol itu jatuh membanting lantai, tutupnya lepas, dan semua koyanya tertumpah keluar.

“Ma…maaf maaf…segera saya bersihkan” ujarnya gugup sambil mengambil tissue di meja dan segera berjongkok disamping kursi makan kami.

“Astaga…” aku baru sadar, jika sedari tadi jemari kaki mas Manto masih ada di dalam paha dalamku, dan masih mengelus-elusnya kulit mulus pahaku perlahan.

Melihat Ogie yang sedang sibuk membersihkan tumpahan koya dilantai, terbesit ide mesum dari otak mas Manto. Dengan jemari kakinya, mas Manto memerintah lututku untuk membuka lebih lebar lagi.

“Apaan sie mas…” bisikku sambil melotot kearahnya.

“Udah…pasti luchu…” bisiknya enteng sambil tersenyum.

Karena jemari kaki mas Manto semakin menggelitik pahaku. Akhirnya aku pasrah. Aku biarkan jemari kaki mas Manto membuka pahaku lebar-lebar dan menunggu Ogie untuk dapat melihat isi selangkanganku yang masih terbungkus celana dalam tipis ini. Dan memang benar, lucu sekali melihat tingkah pramusaji muda ini. Mengetahui akan adanya perbuatan mesum yang sedang dilakukan mas Manto kepada pangkal pahaku, Ogie mulai bertingkah aneh. Ia semakin lama membungkukkan kepalanya sambil sesekali melirik kearahku. Ogie mungkin sedang bertanya-tanya dalam hati “Apakah tamu wanitanya ini tahu atau tidak jika dia sedang mengintip ke dalam pahanya?”

Seolah-olah tak menggubris apa yang sedang Ogie lakukan, kami berdua tetap pura-pura tak memperdulikan dan saling bercanda. Berulang kali kulihat, Ogie membelalakkan matanya dan berusaha membasahi tenggorokannya yang kering. Aku yakin, Ogie saat ini sedang menikmati pemandangan indah yang terpampang tepat didepan hidungnya. Ia pasti sedang melihat paha putih mulusku yang dielusi oleh jemari kaki mas Manto. Mendadak aku merasakan perasaan yang sangat aneh. Tiba-tiba, aku menginginkan untuk memamerkan aurat tubuhku. Kurasakan celana dalamku lepek membasah, vaginaku membanjir karena cairan vaginaku semakin banyak keluar. Melihat Ogie yang tak kunjung bangun dari posisi jongkoknya, membuat gairahku semakin meninggi. Aku ingin Ogie melihat pahaku lebih jelas lagi, tidak, aku ingin Ogie melihat vagina basahku yang tertutup celana dalamku mungil. Kuputar posisi dudukku kearah dimana Ogie berada, dan semakin kubuka lututku kebar-lebar. Kutarik ujung kain daster hijauku keatas sampai setengah pahaku terlihat. Aku ingin mempermudah mata Ogie menikmati mulusnya paha putihku. Aku ingin Ogie melihat cairan vaginaku yang membanjir. Sekilas, kutatap mata nafsu Ogie. Kulemparkan senyum tipis dan anggukan kepalaku padanya. Kuharap Ogie mengerti maksudku. Memang, makhluk yang namanya lelaki, sangat mengerti akan kode dan sinyal mesum dari wanita. Begitupun dengan Ogie. Seolah mengerti akan maksud senyuman nakalku padanya, ia kembali menjongkokkan tubuhnya lebih rendah lagi dan berpura-pura membersihkan tumpahan koya soto. Bahkan ia semakin berani menaikkan ujung bawah taplak meja makan kami, dan berusaha memasukkan kepalanya ke dalam kolong meja. Gelitikan jemari mas Manto pada paha dalamku semakin membuat darahku birahi mendidih. Terlebih, dibawah meja makanku, terdapat sepasang mata mesum yang melihat kemulusan kulit pahaku.

“GILA…aku melakukan foreplay di tempat umum…” batinku dalam hati.

Rasa takut, penasaran, dan nafsu birahi bercampur menjadi satu. Benar-benar beda jika melakukan foreplay ditempat tertutup. “Kamu benar-benar SINTING Liani…”

Cukup lama Ogie berada di bawah meja makanku. Aku yakin, saat ini Ogie pasti sedang mengamati setiap jengkal paha dalam dan vagina basahku dengan seksama. Melihat pangkal kewanitaanku dengan jarak yang sangat dekat, karena terkadang aku dapat merasakan hembusan nafas panasnya pada lutut kananku.

“Loh…kamu ngapain jongkok-jongkok di bawah meja?” tiba-tiba kami bertiga dikejutkan oleh suara suamiku.

“JDUK…” terdengar suara benturan keras dari bawah meja, seiring dengan pertanyaan suamiku. Saking kerasnya benturan kepala Ogie ke meja, timbul riak di kuah soto kami.

Kepala Ogie segera keluar dari bawah taplak meja makan kami sambil mengusap belakang kepalanya

“A…aduh ma…maaf…anu pak…saya segang membersihkan tu…tumpahan koya…ini koyanya segera saya ga…ganti yang kok pak” kata Ogie dengan kalimat terputus-putus sambil menunjukkan tissue berisi tumpahan koya.

“Iya mas…tadi dia menumpahkan koya ke lantai…jadi berantakan deh…yaudah…aku suruh dia mbersihin lantainya…” jelasku ke mas Andri.

“Ooowww….yaudah deh…tolong ambil koya baru ya dek” kata mas Andri

“Iya gih…sana…” tambahku sambil melihat kearah gundukan yang nongol didepan selangkangannya.

“Batang penisnya menegang dan membesar dengan posisi yang salah” batinku.

Melihat Ogie yang tak bisa berdiri dengan sempurna, membuatku dan mas Manto kesulitan menahan geli. Terlebih ketika ia mencoba berjalan ke dapur, susah sekali bagi Ogie untuk menyembunyikan tubuh bungkuknya. Mirip kakek jompo yang mencoba untuk menegakkan punggungnya, kasihan sekali aku melihatnya. Karena mas Andri yang telah kembali ke meja makan, mas Manto segera menarik kakinya keluar dari dalam pahaku. Mungkin ia khawatir, perbuatan mesumnya diketahui oleh suamiku.

“Loh…mbak Narti kemana mas?” Tanya suamiku sambil duduk di samping kursiku.

“Ooh…Narti beli plastik di warung sebelah” jawab mas Manto sambil memutar badannya dan menunjuk ke arah toko kelontong yang ada disamping depot “Nah itu dia si Narti sudah datang”

Dari kejauhan aku melihat tubuh bulat mbak Narti masuk ke dalam depot. Mungkin karena repot akan barang belanjaannya yang begitu banyak, ia menolak duduk didepanku. Mbak Narti lebih memilih kursi di depan mas Andri dan membiarkan suaminya tetap pada tempat duduknya. Tepat berada di depanku. Tak lama, setelah mbak Narti duduk, muncul pramusaji lain dari dalam dapur.

“Maaf pak…ini koyanya” ucap pramusaji itu sambil meletakkan dua botol koya yang ia bawa diatas meja kami.

“Loh…? Si Ogie kemana?” tanyaku

“Oh…dia sedang disuruh pak Samidi bu…membersihkan toilet”

“Owww gitu… yaudah gapapa…Makasih ya sayang…” ujarku dengan intonasi semanja mungkin.

“Sama-sama bu…kalo ada apa-apa…ibu bisa panggil nama saya” ujarnya lagi.

“Nah kalo begitu, acara makan sotonya bisa segera dimulai” kata mas Andri bak pejabat yang sedang meresmikan suatu acara.

Acara makan kami begitu seru. Kelentingan suara sendok, berbaur dengan tawa kami berempat. Dari situ, aku baru mengetahui jika ternyata mbak Narti suka bercanda dan bercerita. Apa saja ia ceritakan, mulai dari masa ia kenalan dengan mas Manto sampai kejadian barusan di toko kelontong samping depot Samidi. Melihat ia berbicara saja sudah susah bagiku untuk tak tertawa. Pelawak. Itulah kesan pertama ketika melihat sosok mbak Narti. Suara cempreng ditunjang tubuhnya yang gemuk pendek, semakin mempertegas kesan tukang humor pada dirinya. Mbak Narti telah berusia 35 tahun, namun jika dilihat secara seksama, sebenarnya ia cukup cantik, hanya mungkin karena proporsi tubuhnya yang pendek dan gemuk, kecantikan yang ia miliki sedikit tertutup. Kulitnya hitam namun bersih, matanya lebar, dan senyumnya juga menawan, mirip senyum mas Manto. Dengan proporsi 150cm/60kg, hanya satu kelebihan dari mbak Narti yang membuat aku iri. Ukuran payudaranya sungguh luar biasa, besar sekali mirip payudara pemain film porno professional Amerika. Bahkan saking besarnya, daging kenyal yang menempel di dada mbak Narti itu terlihat seolah-olah mau loncat ke atas meja ketika ia tertawa. Kutundukkan kepalaku dan kubandingkan payudara tumpah mbak Narti dengan payudaraku sekalku

“Yah…mungkin kalau aku gemuk, pasti ukuran payudara itu bisa aku saingin…iya benar…pasti bisa aku tandingin” kataku dalam hati sambil tersenyum sendiri.

Walau aku wanita, tak mudah bagiku untuk dapat tak memperhatikan goyangan payudara mbak Narti. Dalam hati, payudara mbak Narti terlihat begitu menggodaku. Kutengok mas Andri yang tepat berada di depannya. Mas Andri juga tampaknya terlena dengan goyangan payudara mbak Narti, karena ia terlihat begitu menyimak semua cerita dan banyolan yang diceritakan oleh istri mas Manto itu. Sedikit muncul rasa cemburu ketika mata mas Andri tak melepaskan tatapannya dari payudara raksasa mbak Narti. Akan tetapi, semua itu aku biarkan saja. Aku biarkan mas Andri berzinah mata dengan wanita yang ada didepanku. Toh zinah yang aku lakukan bersama mas Manto, jauh lebih parah lagi. Melihat mbak Narti yang keasyikan akan ceritanya, mas Manto diam-diam mulai mengelus telapak kakiku lagi. Rupanya mas Manto menyadari gerak-gerikku ketika aku sedikit membanding-bandingkan payudaraku dengan payudara istrinya. Karena tiba-tiba, ia telusupkan kakinya kepaha dalamku lagi. Sadar akan gerakan jemari kakinya yang semakin erotis, mukaku langsung memerah.

Beruntung, karena tertutup taplak meja yang cukup panjang ini, semua gerak-gerik tak wajar yang dilakukan mas Manto tak dapat diketahui oleh pasangan kami masing-masing. Terlebih mas Manto memiliki wajah bak pemain sinetron, pintar sekali menyembunyikan muka mesumnya. Selain itu, suamiku pun sepertinya telah terhipnotis akan cerita dan kemontokkan payudara mbak Narti, karena ia sama sekali tak memperdulikan kesibukanku dan mas Manto, sehingga tingkah mesum kami dapat berjalan tanpa rasa khawatir sedikitpun. Vaginaku semakin membanjir, celana dalam hijauku semakin basah. Aku semakin gelisah ketika duduk karena berulang kali aku harus mengganti-ganti posisi dudukku, mencari posisi paling enak untuk dapat menikmati elusan mesum jemari kaki mas Manto pada pahaku. Namun sayang, karena ukuran meja makan ini terlalu lebar, sangat sulit bagi jemari kaki mas Manto untuk dapat menelusup lebih dalam lagi. Putus asa karena tak dapat menikmati tingkah nekat mas Manto, akhirnya semua itu aku hentikan.

“Hhhh…permisi mas…adek mo ke toilet dulu” ujarku pada mas Andri.

Mas Andri beranjak dari tempat duduknya dan mempersilakan aku lewat. Tiba-tiba, ketika aku berjalan di depannya, mas Andri mengecup pipiku.

“Mas aaaaaahhh…apa-apan sie…khan malu” ucapku spontan.

“Aduh…mesranya” ujar mbak Narti sambil bertepuk tangan dengan gaya konyolnya.

“Kok malu? Biasa ahh…kamu khan wanitaku yang paling ngegemesin” ujar mas Andri ”Udah sana…buruan ke toilet, ntar malah keburu pipis disini…hahahaha” tambahnya lagi sambil sedikit bercanda.

“Terus…terus mbak…gimana kelanjutannya” Tanya mas Andri lagi kepada mbak Narti.

Melihat mas Andri lebih penasaran akan cerita mbak Narti, membuatku menjadi seperti tak diperhatikan, rasa cemburu itu timbul lagi.

“Memang sih, mbak Narti pandai sekali bercerita, pandai melawak, tapi khan aku istrinya. Harusnya ia lebih memperhatikan aku donk” batinku dongkol “Ah tapi biarlah…toh dengan semakin dekatnya suamiku dengan mbak Narti, aku juga bisa semakin dekat dengan mas Manto”

Kulangkahkan kakiku ke toilet, kutinggalkan suamiku yang masih terbuai cerita seru mbak Narti. Toilet depot Samidi terletak agak jauh di belakang bangunan depot, berada disamping rumah induk. Sehingga jika hendak menggunakan toilet tersebut, pelanggan harus masuk kedalam dapur dan menyeberangi pekarangan belakang terlebih dahulu.

Depot Samidi menyediakan 6 buah toilet campur yang semuanya berfungsi dengan baik. Kebersihan toilet itu juga sangat terjaga, bersih dan wangi. Kupilih salah toilet kosong yang ada dideretan tengah, dan segera masuk kedalamnya. Kugantungkan tas kecilku di dinding, kuturunkan celanaku sampai sebatas lutut dan segera jongkok di atas jamban yang mengkilat bersih.

“TOK…TOK…TOK” tiba-tiba terdengar suara pintu toiletku diketuk perlahan dari luar.

“Ada orangnya…” jawabku lantang dari dalam toilet.

“Dek…ini aku…mas Manto…buka pintunya donk” bisiknya pelan.

“Apa yang ia lakukan disini? Bukannya jika dia ingin menggunakan toilet, ada beberapa toilet lagi yang kosong disamping toilet yang aku gunakan” tanyaku dalam hati.

“Ada apa mas? Toilet sebelah kosong kok” bisikku lagi.

“Bukan dek…mas kangen” katanya lagi sambil memutar-mutar kenop pintu toiletku.

“Adek sedang pipis mas…tunggu sebentar ya”

“Ayo buka dek…kontolku sudah nggak tahan lagi…keburu muncrat nih”

“Maksudnya apa mas? Adek masih mau pipisnya nih”

“Justru itu dek…bukain pintunya…mas pengen ngentotin memek kamu”

DEG. Kembali jantungku kembali menghentikan detaknya.

“GILA. Ini khan toilet…ini khan tempat umum…masa mas Manto ingin bersetubuh denganku disini? Ini gila… tak mungkin… mas Andri dan mbak Narti khan masih ada di luar sana…bagaimana jika ada orang yang memergokin kami berdua?” pertanyaan-pertanyaan khawatir langsung memenuhi isi kepalaku.

“Dek…ayo buka dek…mas sudah nggak tahan lagi…”

Kata-kata ajakan mas Manto itu terngiang-ngiang di telingaku. Bagai aluan lagu merdu, kalimat itu membujukku tuk menurutinya. Dadaku berdebar dengan hebatnya, nafasku memberat, dan hasrat kencing yang dari ingin segera kutuntaskan, mendadak hilang. Vaginaku kembali membanjir.

“Dek buruan…kontolku dah nyut-nyutan ini…pengen nyodok memek kamu”

Ingin rasanya ku tampar mulut jorok mas Manto itu. Ingin rasanya ku hiraukan semua ajakan mesum dari tetanggaku itu. Ingin rasanya kuteriak lantang, memanggil suamiku yang duduk tak jauh dari tempatku berada guna mengusir lelaki mesumku itu. namun……

Tanpa menaikkan celana dalamku yang masih bertengger di lutut, kuberanjak dari posisi jongkokku. Kuberjalan mendekati pintu toilet, kuraih kenop pintu yang berbentuk bulat itu, kuputar perlahan, lalu kubuka daun pintu yang memisahkan kami berdua. Kembali kulihat, senyum paling menawan dari suami baruku. Senyum indah suami tetanggaku. Mas Manto berdiri miring menyandarkan pundak kirinya di gawang pintu toiletku. Dengan tenang, tangan kanan mas Manto sudah bergerak maju mundur, mengurut batang penis raksasanya yang telah menyembul jauh keluar dari lubang resleting celananya. Sepertinya mas Manto hanya mengenakan celana pendek, tanpa celana dalam. Karena dapat kulihat rambut kemaluannya yang sangat rimbun itu, ikut menyeruak keluar melalui lubang resleting celana pendeknya.

“Gila kamu mas” ujarku sambil melongokkan kepalaku keluar dari dalam toilet, mencari tahu kondisi sekitar ”Kita bisa ketahuan”

“Nggak bakal…percaya deh”

Mas Manto langsung mendorong tubuhku kembali masuk kedalam toilet dan menutup pintu yang ada dibelakangnya. Dengan penuh bernafsu, mas Manto langsung mendorong tubuhku sampai menabrak tembok.

“Aku kangen kamu dek…” ucapnya sambil mulai melahap bibirku “Aku udah nggak tahan lagi…aku pengen ngentotin memek sempitmu” Mas Manto terlihat sudah begitu bernafsu. Mulutnya melahap semua bibir tipisku, menyelinapkan lidah kasarnya masuk kedalam mulutku. menarik dan melilit lidah lembutku. Sangat bernafsu. Nafasnya sudah begitu memburu, badannya menghangat, dan batang penisnya yang mengacung tinggi itu, berulang kali menusuk perut rataku. Tangan mas Manto tak mensia-siakan kepasrahanku. Langsung menurunkan daster tipisku, mencengkeram dan meremas payudaraku yang masih terbungkus bra. Lumatan bibir mas Manto mulai turun ke leherku, membuat bulu kudukku merinding menerima semua kecupan nafsunya.

“Ooouuugghhh maassss” desahku menahan geli.

Basah. Foreplay yang selalu mas Manto lakukan, seolah-olah memandikanku dengan air liurnya. Tanpa melepas kait braku, mas Manto menaikkan mangkuk braku dan langsung mencaplok payudaraku yang meloncat ke bawah.

“HAP” dengan brutal mas Manto meremas dan menyedot buntalan payudaraku sampai berwarna kemerahan. Digigitnya perlahan putting merah mudaku hingga tinggi mencuat.

“Ooouuugghhh…Adek juga kangen kamu mas…” kataku.

Nafsuku sepertinya tak tinggal diam, ia ikut bergejolak seiring foreplay basah dari selingkuhanku ini. Sambil memejamkan mata menahan geli, kuberusaha menggapai batang penis mas Manto. Dan dengan mudah, kutangkap batang penis hitam suami baruku itu. Begitu hitam, panas, dan berdenyut hebat. Dari mulut penisnya sudah menggumpal cairan precum, tanda penis itu sudah sangat siap untuk digunakan.

“Berbalik dek, pegangan bak mandi…” ujarnya singkat.

Karena tubuhku sudah sangat bergairah, tanpa basa-basi, segera kubalikkan badanku. Kurentangkan tungkai kakiku lebar-lebar, berpegangan pada bibir bak mandi toilet dan kumajukan tubuh atasku.

“Nungging dek” tambahnya lagi.

Mas Manto menaikkan bagian bawah daster sampai tengah-tengah pinggangku, menggulung dan menyimpulkannya, membuat mirip gulungan sarung. Melihatku yang sudah pasrah menanti sodokan penisnya, mas Manto mendekat maju.

“Mas…”

“Ya dek?”

“Sodok memek adek sekarang yah?” pintaku.

Mas Manto menganggukan kepalanya. Segera ia membuka kancing celana pendeknya dan membiarkan celana pendeknya langsung merosot, jatuh ke lantai toilet. Dengan sigap, mas Manto segera memposisikan kepala penis beserta batang panjangnya diantara liang vaginaku.

“Buruan mas…sodok memek adek” tak kuat menahan gatal di vaginaku, kugenggam organ panjang yang tumbuh diantara selangkangan mas Manto itu dan kuarahkan ujung batang penisnya supaya tepat berada di depan lubang vaginaku. “…TUSUK MAS”

Tanpa perlu menunggu perintahku lagi, mas Manto segera menuruti permintaanku. Ia langsung memulai gerakan erotisnya dan menghujamkan penis raksasanya kedalam vaginaku yang telah membanjir basah.

“OOooouuuggghhhh” kugigit bibir bawahku ketika kepala penis mas Manto mulai menyentuh bibir vaginaku.

Perlahan kepala penis itupun mulai menyeruak masuk perlahan ke liang vaginaku. Kepala penisnya sungguh besar, menguak sempitnya katupan bibir vaginaku, berusaha masuk dengan susah payah. Semakin kutundukkan tubuh atasku dan kulebarkan rentangan kakiku, guna mempermudah upaya kepala penis Manto masuk liang vaginaku. Dengan kedua tanganku, kutarik buah pantatku kesamping berharap penis itu dapat segera mengaduk lubang kenikmatanku.

“CLEP”

“OOuuugghhhsssssshhhh…”

Panas sekali kepala penis mas Manto ketika kurasakan pada bibir vaginaku. Begitu kepala penis itu sudah berhasil masuk seluruhnya, rasanya begitu nikmat, berdenyut hebat seiring detak jantungnya. Didorongkannya batang hitam berbonggol itu maju, masuk lebih jauh kedalam lubang tubuhku. Beruntung karena cairan kenikmatanku yang sudah banyak keluar, batang penis mas Manto dapat dengan mudah masuk ditelan vaginaku. Selagi kepala penis mas Manto menggaruk dinding vaginaku, tonjolan urat yang mengitari batang hitam penis mas Manto, juga mulai menggelitik bibir vaginaku. Nikmat sekali. Dan hanya dalam waktu singkat, separuh dari total panjang penis mas Manto, sudah berhasil masuk, memenuhi vagina sempitku. Sejenak, mas Manto mendiamkan batang gemuknya, mencoba merasakan kenikmatan denyutan dinding vaginaku mengempot batang penisnya.

“Empotan memek kamu memang nggak ada duanya dek…”ujar mas Manto, memecah keheningan diantara kami.

”Hmmm…sshhhh…terus mas…Oooouuugggghhh”

“Enak dek?”

“Hoo…oouugghhhhhh” ucapku sambil menganggukkan kepalaku.

Tangan mas segera memegang sisi pinggangku. Dan dengan sekali hentakan keras, ia menghujamkan penisnya yang berukuran ekstra itu dalam-dalam.

“PLEK” suara paha kami bertabrakan.

“OOoouuuggghhhhh masss…ampun” sedikit kurasakan sakit ketika batang penis yang berukuran ekstra itu dapat melesak, ambles tertelan liang vaginaku.

Kugigit bibir bawahku, menahan supaya rintih kenikmatanku sedikit teredam. Mas Manto kembali mendiamkan gerakan sodokan batang penisnya, mencoba merasakan empotan dinding vaginaku pada batang penisnya. Namun, dengan diamnya mas Manto, malah membuat rasa gatal pada vaginaku semakin menjadi-jadi. Aku menginginkan agar batang berbonggol milik suami tetanggaku itu segera mengaduk-aduk liang vaginaku. Aku berinisiatif, tanpa diminta mas Manto, mulai memaju mundurkan pinggulku, berusaha supaya kepala jamur penis mas Manto dapat menggaruk dan menghilangkan gatal birahiku. Ternyata, Mas Manto juga menginginkan hal yang sama. Ia juga menginginkan segera mencapai kenikmatan duniawi ini. Batang penis yang penuh urat itu mulai ia tarik mundur perlahan sampai ke leher kepala penisnya dan kembali, ia dorongkan masuk perlahan. Maju, mundur, maju, mundur dengan tempo yang semakin lama semakin cepat.

“Shhhss…mas…enak banget….” Desahku lirih “ Entotin memek adek mas…entotin yang kenceng…”

Merasakan geli dan kenikmatan batang penis mas Manto, liang vaginaku pun segera beraksi. Lendir licinku mulai membajir dan keluar tak henti-hentinya. Busa khas berwarna putih hasil perzinahan alat kelamin kami pun segera muncul, melumasi kelamin kami masing-masing supaya dapat keluar masuk dengan nyaman. Dinding vaginaku juga mulai berkedut hebat dan meremas batang penis mas Manto sekuat mungkin. Seperti kesetanan, karena lama tak bersetubuh denganku, mas Manto menghajar liang vaginaku keras-keras. Menyodokkan batang penisnya yang berukuran ekstra itu dalam-dalam dan ingin segera menumpahkan benih-benihnya dalam vaginaku. Payudara 36C-ku yang tak lagi terbungkus bra juga mulai bergoyang dengan kencang. Sampai terkadang menampar daguku, ketika aku mencoba menundukkan kepala tuk melihat goyangan badan mas Manto dari bawah. Dengan satu tangan, kuraih tangan mas Manto yang ada di samping pinggangku dan memindahkannya ke payudaraku. Memintanya segera meremas dan mempermainkan putting susuku. Walau tak seluruh daging kenyalku dapat ia tampung dengan tangan kasarnya, mas Manto tepat saja mencoba meremas seluruh permukaan kulit payudaraku. Sesekali ia mencubit, memelintir dan menarik puting susuku kesamping. “PLEK…PLEK…PLEK…” suara persetubuhan kami menggema di seluruh ruangan toilet depot ini. Tubrukan pantatku dan paha mas Manto, benar-benar kencang sampai mendorong tubuhku maju menabrak bak mandi toilet. Sungguh kuat sodokannya, sampai terkadang, walau aku mencengkeram bibir bak toilet, aku merasa kewalahan untuk dapat mempertahankan posisi nunggingku. Perzinahan yang sangat nikmat, bahkan saking nikmatnya, tak mampu ku ungkapkan dengan kata-kata. Aku tak pernah mengerti, entah kenapa, kurasakan sensasi yang sangat berbeda setiap aku bersetubuh dengan mas Manto. Dari batang hitamnya, kurasakan kenikmatan yang tak pernah kudapat dari penis suamiku. Permainan kasar mas Manto selalu dapat membawaku terbang ke langit kenikmatan. Selalu dapat membuatku menggelijang geli dan cepat menghadiahkan orgasme untukku. Berbeda jika aku bersetubuh dengan suamiku. Walau terkadang mas Andri juga melakukan persetubuhan yang kasar dan buas, namun entah kenapa, ia tak pernah dapat memberiku kenikmatan seperti jika aku berzinah dengan suami tetanggaku ini. Entah karena perbedaan ukuran batang penis, perbedaan stamina, perbedaan cara bermain, atau perbedaan perlakuannya terhadapku. “PLEK…PLEK…PLEK…” suara tepukan tubuh kami begitu keras. Begitu nyaring. Seolah telah tenggelam dalam kenikmatan perzinahan ini, kami sama sekali tak memperdulikan semua suara dan kegaduhan yang kami lakukan. Masa bodoh, jika ada orang yang tahu.

“OOOuuugggghhhh…sssshhhh…terus mas” desahku.

“Enak dek?”

“Enak banget mas…terus mas… sodok memek adek dengan kontol hitammu”

“Dek Lianiku…”

“Kencengan mas…lebih kencengan lagi…sodok lebih kenceng lagi…”

“Kamu suka ya dek disodok kontol besarku”

“Iya mas…adek suka banget sama kontol besar kamu mas…enak banget”

“Enak mana ama kontol suamimu dek?”

“Oouugghh” Aku tak mampu menjawab, hanya dapat mendesahkan dengus kenikmatan.

“Pasti enakan kontolku ya dek?”

“Shhh……………” Aku hanya diam membisu, melenguh keenakan.

Karena aku tak menjawab pertanyaan yang ia berikan, mas Manto menghentikan goyangannya, dan membiarkan seluruh batang penisnya amblas, tertelan liang vaginaku. Ia mematung, sama sekali tak bergerak. Hanya kedua tangannya yang masih aktif meremas dan mencubit putting susuku perlahan.

“Mas…ayo goyangin lagi…sodok memek adek lebih kenceng lagi…”

“…………………” mas Manto tetap berdiri diam.

“Ayo mas…jangan berhenti…memek adek sudah gatel banget…adek udah mau keluar nih…ayo mas” ujarku sambil memaju mundurkan pinggulku sendiri.

“Gak mau ahh…jawab dulu…enakan mana? Kontolku atau kontol suamimu?

Kuanggukkan kepalaku pelan sambil mencengkeram pantat hitam mas Manto.

“Ayo mas…buruan sodok memek adek mas …adek udah mau keluar”

“Jawab dulu…”

Ingin segera mendapatkan orgasme, tanpa malu ku berucap “….KONTOL KAMU mas…KONTOL KAMU yang paling enak…kontol mas Andri nggak ada apa-apanya kalo dibandingin KONTOL HITAMmu…” teriakku lantang.

“Hehehehehe…nah gitu donk…khan jadi seneng ndengernya… pegangan dek”

Mendengar jawabanku yang begitu tegas, mas Manto menjadi makin beringas. Seolah kesetanan, mas Manto menggempur liang vaginaku dengan batang penisnya sekencang mungkin. Menyodok dalam-dalam dan menusuknya secepat mungkin. Tak terhitung lagi, berapa banyak sodokan yang telah batang penisnya lakukan pada liang vaginaku beberapa menit terakhir ini, karena sodokannya benar-benar cepat. Sangat cepat. Seperti tak mau memberikan jeda sedikitpun, mas Manto menusukkan batang hitamnya berulang kali bak lengan piston, menghajar lubang vaginaku tanpa ampun.

Cairan vaginaku keluar tanpa henti. Melumasi kelamin kami masing-masing. Busa putihku pun tak henti-hentinya melumuri sekujur batang penis mas Manto, menandakan kenikmatan yang kurasakan pada liang vaginaku benar-benar dahsyat. Sungguh nikmat, sampai tak sedikit, cairan pelumas yang keluar dari liang vaginaku mengalir turun merayap ke paha dalamku, dan terus turun ke lutut dan betisku. Perlahan, rasa hangat dari dalam perutku mulai timbul. Rasa hangat yang khas ketika orgasme itu akan datang, mulai turun kearah rahimku. Menggelitik setiap mili rongga vaginaku seiring sodokan penis besar mas Manto. Bergetar badanku, merasakan orgasme yang bakal menyembur kuat dari dalam rahimku.

“Adek mau keluar mas…adek mau keluar” Ku tancapkan kuku jemariku dalam-dalam ke paha kanan mas Manto.

Ternyata, hal serupa juga dirasakan oleh mas Manto. “Mas juga dek…mas juga mau keluar…mas mau NGECROT di dalam memek kamu” jawabnya sambil makin mempercepat goyangan pinggulnya. Tangan kasarnya pun tak mau kalah, meremas dan menyiksa payudaraku. Ditariknya kedua gumpalan daging yang tumbuh di dadaku ke belakang, sambil terus memilin putting susuku yang semakin mencuat keras. Karena sudah tak sabar ingin merasakan kenikmatan orgasme, aku tak dapat banyak berbuat apa-apa. Aku hanya bisa melenguh keenakan sambil terus mencengkeram paha kanan mas Manto kuat-kuat. Mas Manto mendadak melepas remasan tangannya di kedua payudaraku, lalu berpindah mencengkeram pinggulku erat-erat. Semakin cepat mas Manto menggoyangan pinggulnya maju mundur. Membentur-benturkan pahanya dengan keras kepantatku, sehingga suara tepukan tubuh kami semakin keras membahana. Suara kecapan cairan lendir vaginaku yang keluar juga semakin renyah, berkecipak seiring tusukan tajam penis mas Manto.

“Terus mas…sodok lebih cepat lagi mas…terus”

“Iya dek…”

Ingin segera mendapat kepuasan birahi, kuremas sendiri payudaraku yang berayun bebas dibawah bra hijauku, sembari kupelintir dan kucubit-cubit putting susuku yang juga semakin keras mengacung. Tanganku pun mulai bermain dengan kedua buah payudaraku yang berayun bebas. Selain itu, aku juga mulai memainkan biji kelentitku, ku usap dan kugelilitk dengan ujung jariku. Nikmat sekali.

“Ohh…mas…adek mau keluar mas…” kulepas biji kelentitku, dan kembali kucengkeram paha kanan mas Manto. Kuminta mas Manto semakin mempercepat gerakan tubuhnya. Dan…

“Ooouugghh…oouuhhh…ooouuhhh…maassss…aku keelllluuuaaAARRrrgghhmmpppfff” teriakku. Buru-buru mas Manto melepaskan cengkeram tangannya di pinggangku dan segera membungkam mulutku, menjaga supaya teriakkan orgasmeku tak keluar dengan lantang.

“OOooooohhhhhmmmmm” Tubuhku mengejang-ngejang, membusur jauh kedepan. Tangan kananku mencengkeram pinggang mas Manto yang ada dibelakangku. Kutancapkan kuku-kuku panjang jemariku di kulitnya hingga membekas merah.

Aku orgasme. Kembali kurasakan orgasme dahsyat yang kuperoleh dari suami tetanggaku. Lututku tiba-tiba melemas dan kakiku seolah kehilangan tenaganya. Badanku bergetar dengan hebat, mirip orang terkena epilepsy. Melihat orgasme dahsyatku, mas Manto langsung mendekap perutku, berusaha menahan tubuhku agar tak langsung jatuh kelantai toilet. Vaginaku berdenyut begitu hebat, mencengkeram, meremas dan mengempot batang penis mas Manto yang masih keluar masuk dengan cepatnya. Bertubi-tubi, batang besar panjang berwarna hitam itu masih terus dihujamkan oleh pemiliknya kedalam liang vaginaku yang berwarna pink kemerahan. Sampai akhirnya.

“OOOooooohhhhhh……aku juga keluar dek…oooohhhh”

CROOOT…CROOTT….CROTTT” Mas Manto orgasme.

Cairan kental panas langsung membanjiri rongga rahimku. Tujuh semburan kencang kurasakan menyemprot tanpa henti dari mulut batang penis mas Manto. Jutaan benih sperma segar milik mas Manto ia keluarkan di dalam vaginaku dan membanjiri rongga rahimku. Bahkan saking banyaknya, rongga vaginaku tak mampu menampung seluruh benih kenikmatan itu. Karena tak lama, kurasakan banyak sperma mas Manto mulai keluar dari vaginaku, merayap turun kearah paha dalam dan belakang betisku.

“OOooouuugghhhh…” ucapku lagi, merasakan sensasi hangat pada rongga rahimku..

“Memek kamu enak banget dek…peret abis” ucap mas Manto sambil masih menghentak-hentakkan pinggulnya maju. Menghabiskan sisa-sisa sperma dan tenaga birahinya. Keringatnya membanjir, membasahi kening dan lehernya. Nafasnya pendek-pendek, ngos-ngosan, mirip orang yang baru saja menyelesaikan lari marathon.

“Aku sayang kamu dek”

“Aku juga mas…sayang kamu banget…”

Tanpa mencabut penisnya yang masih berkedut dan mengeluarkan sperma, mas Manto memeluk tubuh mungilku sambil mengecup tengkukku “ Makasie ya dek Lianiku…”

Nyaman sekali rasanya, dipeluk pasangan zinahku yang telah cukup lama menahan diri untuk tak menyetubuhiku. Dari pelukkannya, dapat kurasakan perhatian yang begitu besar dari mas Manto. Walau hanya dari persetubuhan yang berjalan kurang dari 3 menit ini, aku dapat mengerti betapa kangennya dirinya terhadapku. Hampir semenit kami berpelukan tanpa mengucapkan suara apapun. Berdiri mematung membiarkan kelamin kami yang masih saling bertautan, dengan kondisi pakaian setengah bugil, kami berusaha merasakan sisa-sisa kenikmatan zinah yang baru saja kami lakukan.

***

“CKRIK….”

Samar-samar, aku mendengar suara aneh dari luar toilet Samidi ini. Suara itu begitu pelan, seperti suara jepretan kamera. Pelan, seperti sengaja diredam supaya aku dan mas Manto tak menyadari jika ada seseorang sedang mengambil gambar kami.

“CKRIK….”

Berulang kali, suara aneh itu terdengar lagi. Sepertinya, semenjak beberapa saat setelah mas Manto masuk ke dalam toilet dan menyetubuhiku dengan kasar, suara itu mulai ada, namun karena nikmat yang kurasakan pada bagian bawah tubuhku, aku sama sekali tak menghiraukannya.

“Mas…” bisikku pada mas Manto yang masih mengecup-kecup pundak dan tengkukku.

“Iya…mas juga denger…” bisiknya tenang “Sepertinya ada seseorang yang sedang mengamati kita”

“Tuh khan…kita ketahuan…” bisikku dengan nada yang sedikit meninggi dan mulai agak sewot.

“Tenang dek…anggap saja kita tak mengetahuinya” pinta mas Manto kepadaku sambil perlahan, ia mulai menggoyangkan pinggangnya lagi. Mencoba kembali melesakkan batang penisnya yang masih keras kedalam vaginaku.

“GILA kamu mas…udah ah…kalau itu mas Andri gimana?” bisikku lagi.

“TENANG dek TENANG…”ujarnya santai “Kalau itu suamimu, pasti aku sudah jadi mayat sekarang”

Benar juga dengan apa yang mas Manto katakan, tak mungkin suamiku hanya berdiam diri dan mengintip istrinya ketika sedang bercinta dengan orang lain. Terlebih, tak mungkin suamiku mencuri gambar diriku yang sedang dizinahi orang lain.

“Mas mau beri pelajaran orang itu…” kata mas Manto singkat ”Sepertinya orang itu ada di balik pintu ini dek…kamu bertingkah normal saja…pura-pura tak tahu”

“Enak banget memek kamu dek…” ucap mas Manto lantang sambil meneruskan goyangan pinggul hitamnya. Mas Manto sepertinya mulai melakukan aktingnya ”Jawab ya sayang…kita pancing dia” bisiknya.

Aku pun menganggukkan kepalaku, menyetujui ide joroknya. “Ooouuuhhh… hmmm… eeennnaakk mas…” jawabku dengan nada merintih keenakan.

“Mas Sodok lagi ya sayang…mas masih pengen ngentotin kamu…”

“Oooouuuggghhh….iya mas…memek adek juga gatel banget…pengen digaruk kontol besarmu…ooohhhmm”

“CKRIK…CKRIK….CKRIK….”

Pelan, suara jepretan camera itupun mulai muncul kembali, seperti mengambil gambar kami secara marathon. Tak mensia-siakan satu moment sedikit pun. Di tengah tingkah laku akting kami, perlahan aku tundukkan kepalaku, mencoba mencari tahu apa yang terjadi di balik pintu yang ada dibelakangku. Kulihat dari sela-sela kakiku dan kaki mas Manto. Ternyata memang benar, setelah aku perhatikan secara seksama, lubang angin pintu toilet ini dipasang terbalik, sehingga memungkinkan untuk diintip dari luar. Dan daun pintu toilet inipun tak sama dengan tinggi gawang toilet ini, masih sedikit menggantung sekitar 5 cm di atas lantai. Sebenarnya aku tak perlu khawatir akan keberadaan si pengintip yang ada dibalik pintu toilet ini, karena ia tak dapat mengetahui siapa kami sebenarnya. Aku juga tak perlu malu, karena selain ia berada diluar toilet mandi, hampir seluruh tubuhku juga tak mungkin dapat ia lihat, terhalang oleh tubuh kekar mas Manto. Tiba-tiba, perasaan aneh itu muncul lagi. Mendadak aku ingin kembali memamerkan aurat tubuhku kepada orang lain selain mas Manto. Aku ingin si pengintip itu tahu siapa aku. Aku ingin si pengintip itu melihat tubuh setengah telanjangku. Aku ingin si pengintip itu masuk, bergabung dan bercinta denganku. Aneh. Benar-benar ide yang aneh.

“PLOP” Tanpa ada instruksi apapun, mas manto tiba-tiba mencabut batang penisnya yang masih menancap erat di liang vaginaku.

“Ooooooohhhhhh……ssssshhhhh….” Lenguhku seketika begitu merasakan bonggolan batang penis mas Manto ditarik paksa.

Bak polisi yang sedang dalam tugas penyergapan. Mas Manto segera membalikkan badan, dan tanpa mengenakan kembali celananya yang masih teronggok di lantai toilet, ia membuka pintu toilet itu lebar-lebar.

“SEDANG APA KAMU?” gertak mas Manto lantang kepada si pengintip yang berada di balik pintu toilet ini.

“Annu…aa…anu…” jawab si pengintip yang tak tahu kalau ia bakal kepergok seperti ini.

Walau tak bercelana, dengan tanpa rasa malu sedikitpun, mas Manto segera mengeluarkan kepalanya, celingukan mengamati kondisi sekitar toilet. Lalu tanpa meminta persetujuanku, mas Manto menarik paksa si pengintip itu masuk ke dalam toilet dan segera menutup kembali pintu di belakangnya rapat-rapat. Aku yang masih belum tahu maksud mas Manto, hanya bisa berdiri diam sambil memegang bibir bak mandi. Kulihat melalui pundakku, mas Manto yang masih mencengkeram kerah baju si pengintip, langsung membantingkan punggung pengintip itu ke arah tembok.

Tanpa membenarkan dasterku yang masih terbuka di bagian atas dan bawah, kubalikkan badanku untuk mengetahui, siapa gerangan sosok pengintip yang sedari tadi memperhatikan persetubuhanku dengan mas Manto. Dan segera, aku mengenali wajah mesum sosok pengintip itu. Dia adalah Ogie.

“JBUK…” satu hantaman keras, langsung menghajar wajah Ogie. Membuatnya bibir tebalnya langsung meneteskan darah segar.

“Ouuuugghh…ampun pak…”

“JBUK…JBUK…” dua hantaman menyusul, menusuk perut dan ulu hatinya.

“HEGHH…” Ogie langsung jatuh terduduk di lantai kering toilet. Dan seiring dengan jatuhnya tubuh Ogie kelantai, terjatuh pula sebuah handphone hitam yang masih dalam kondisi menyala dari tangan kirinya.

Tanpa basa-basi, mas Manto segera memungut handphone Ogie yang terjatuh, di samping kakinya itu. Sejenak, ia memperhatikan handphone Ogie itu.

“SPAAAK…” satu tendangan tepat mendarat di sisi kiri tubuh Ogie.

“MATI LO BANGSAT…” ujar mas Manto sambil terus menendangi tubuh Ogie yang diam tak berdaya.

”Ampun pak…ampun…” rintih Ogie berulang kali.

“MAS…CUKUP…” teriakku. Kutarik lengan mas Manto, dan kujauhkan dari tubuh Ogie yang masih teronggok di sudut toilet depot ini.

“CUKUP mas…sudah…” ujarku tegas.

“Dia mengambil gambar kita dek” marah mas Manto “Nih LIHAT…!!!” tambahnya lagi sambil menyodorkan handphone Ogie kearahku.

Segera kuulurkan tanganku, meraih sodoran handphone milik Ogie. Tampak di layar handphone, pantat hitam mas Manto yang sedang mengeras, menusukkan batang panjangnya maju, ke dalam liang vaginaku. Ogie mengambil photo kami dari berbagai macam sudut. Jarak dan pose pengambilan gambarnya pun bervariasi, ada yang full frame, medium frame, bahkan sampai close up. Sejenak, kuperhatikan kumpulan photo di handphone Ogie. Kulihat, ada lebih dari 78 gambar yang telah ia ambil. Dan benar, Ogie mulai mengambil photo kami berdua semenjak awal. Tak memperdulikan kondisi tubuhku yang masih setengah telanjang, aku mendekat kearah Ogie. Kunaikkan celana dalamku yang masih terenggang pada lututku, kukenakan seadanya dan langsung berjongkok di depan si pengintip yang meringkuk ketakutan di lantai toilet.

Kupegang pangkal lengan pramusaji mesum itu, dan kumintanya duduk, bersandar di dinding toilet. Mungkin karena merasa situasi sudah cukup tenang, Ogie menuruti semua permintaanku. Sambil masih menundukkan kepalanya, Ogie menunggu apa yang bakal terjadi pada dirinya. Kusodorkan layar handphone itu ke muka pemiliknya.

“Ogie…lihat…” panggilku “Buat apa kamu mengambil photo-photo aku?” tanyaku.

“……………” Ogie tak menjawab sepatah katapun. Ia masih dalam posisi duduk menundukkan kepala.

“Ogie…?”

“JAWAB BANGSAT…” kata mas Manto sambil kembali mendekat ke arah Ogie duduk lalu menendang tubuh pramusaji itu keras-keras.

“MAS…CUKUP…biar adek urus semua ini…” ujarku pada mas Manto.

“Ogie…aku tanya sekali lagi…buat apa kamu ngambil photo-photo aku?”

Dengan nada seperti orang yang menggigil kedinginan, walau tanpa melihat kearahku, akhirnya ia mulai membuka mulutnya “ Bu…bu…buat ko…koleksi mbak…”

“Koleksi? Buat apa?”

“…………….” Kembali Ogie tak menjawab.

“JAWAB” perintah mas Manto lagi. “BUAT APA? BUAT BAHAN COLI YA?” tebaknya.

“Mas…” potongku “biar adek aja…”

“Ogie…benar begitu? Apa photo-photo ini kamu buat sebagai bahan untuk coli?”

Perlahan, dengan wajah yang malu-malu, Ogie menganggukkan kepalanya.

“Kamu suka coli?”

Kembali Ogie menganggukkan kepalanya.

“Kamu sering ya ngintipin tamu yang make toilet ini”

Kaget akan pertanyaanku, mendadak Ogie menatap wajahku dan wajah mas Manto namun kembali menundukkan kepalanya. Ia menggelengkan kepalanya.

“BOHONG KAMU YA? BANGSAT…” marah mas Manto kembali meledak.

Langsung kutatap wajah suami tetanggaku itu dalam-dalam, memintanya untuk sedikit diam.

“Trus? Kenapa di handphone kamu ada banyak photo persetubuhanku dan suamiku?” tanyaku bohongku.

“Suami……………?” Tanya Ogie sambil mendongakkan kepala, menatap ke arahku dan kearah mas Manto lalu buru-buru menundukkan kepalanya lagi “Maaf mbak saya tidak tahu…saya pikir suami mbak tuh orang yang ada diluar sana…”

“Iya…dia juga suamiku…sudah-sudah…lupakan saja tentang masalah suamiku… yang sekarang aku pengen tahu…kenapa kamu ambil photo-photo kami berdua?” Tanyaku lagi dengan nada penasaran.

“……………”

“Ogie…?” tanyaku lagi “ kenapa…? Jawab saja…mbak nggak akan marah kok…kenapa kamu mencuri photo-photo mbak?”

Akhirnya dengan satu tarikan nafas oanjang, pramusaji itu mulai membuka mulutnya.

“Aku berani karena mbak…aku nekat juga karena ingin melihat keseksian tubuh mbak lagi…sumpah…mbak cantik banget…malah terlalu cantik untuk ukuran manusia…”

“Maksud kamu?”

“Mbak cantik mirip malaikat…Mbuat aku jadi nggak bisa mikir bener” ucapnya spontan.

“Enggak bisa mikir bener? Maksudnya gimana?

“Nggak tahu mbak… kayaknya aku langsung jatuh cinta begitu tadi melihat mbak”

“HAHAHAHAHAHA…” tawa mas Manto tiba-tiba meledak “Belum bisa kencing lurus aja berani bilang cinta…” kata mas Manto yang entah sejak kapan, sudah kembali mengurut penisnya yang telah besar menegang.

“Mas…sudah ah…”

“Bilang aja kamu sange karena tadi ngintipin kancut biniku ini khan?” Tanya mas Manto “Ayo…ngaku aja…tadi kamu lama ngelap lantai itu karena ngintipin kancut biniku khan?”

“Ogie? Bener? Apa yang suamiku katakan?”

Pramusaji itu kembali menganggukkan kepalanya “Iya mbak…”

“Ogie…Ogie, polos sekali anak muda ini” batinku padanya.

Entah karena takut, atau emang karena ia tak pandai berbohong, Ogie menceritakan semuanya kronologis dan alasan mengapa ia berbuat seperti ini.

Sembari mendengar cerita Ogie, mas Manto yang berdiri di samping tempatku jongkok, tanpa malu sama sekali, mulai mengocok batang hitamnya dihadapan Ogie. Malah tak hanya itu, mas Manto juga mulai menyenggol-senggolkan ujung kepala penisnya yang sudah kembali membesar dengan sempurna ke kepalaku. Kulihat apa mau suami baruku ini. Kutatap matanya yang berulang kali menunjuk ke selangkangan Ogie yang mulai membesar. Kembali, otak kotor mas Manto memunculkan ide joroknya. Sambil masih mengurut penis raksasa yang sudah sangat tegang, mas Manto memberikan isyarat tangan kanannya kepadaku. Isyarat ibu jari yang diselipkan diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Kukernyitkan alisku sampai menukik naik, mencari tahu keseriusan suami baruku ini. Melihat pertanyaan di raut wajahku, dengan mantap, mas Manto mengangguk-aanggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar, mengharap persetujuanku.

“Suamiku yang GILA” Bersama mas Manto, aku seperti orang idiot, seperti menjadi budak nafsunya yang selalu menuruti tingkah dan permintaan anehnya. Kembali aku terhipnotis oleh senyum tenang suami tetanggaku. Aku sudah tak mampu berpikir jernih karena masih horny, kuanggukkan kepalaku, memberi ijin pada mas Manto untuk menzinahiku lagi.

“Gie” suara mas Manto menggema diruangan kecil toilet ini.

“I…iya mas?” jawabnya singkat.

“Kamu suka melihat keseksian tubuh biniku ini?” Tanya mas manto sambil menggoser-goserkan kepala penisnya pada rambutku.

Ogie tak menjawab, dengan posisi kepala yang masih menunduk takut, Ogie menganggukkan kepalanya.

“Kalo kamu suka… kenapa kamu nggak ngelihat saja langsung tubuh bugilnya? Mumpung dia masih ada di dekatmu?”

Ogie tak membalas perintah mas Manto, ia hanya menggelengkan kepalanya.

“Jangan munafik Gie…” mas manto mendekat kearah Ogie, mengangkat dagu Ogie dan memerintahnya supaya melihat tubuh setengah telanjangku “Sok …puas-puasin lihat tubuh seksi biniku…ayo…gapapa kok”

“Mas…apa-apaan sie?” ujarku.

Perlahan, dapat kulihat mata Ogie yang mulai kehilangan rasa malunya. Matanya mulai melahap tubuh seksiku bulat-bulat. Bola matanya melotot seperti hendak keluar dari kelopak matanya, menjelajahi setiap jengkal auratku, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Terkadang kulihat, gerakan jakun Ogie, yang sepertinya sangat kesulitan ketika menelan air liurnya.

Karena merasa sedikit jengah, ku langsung berdiri dan sedikit menjauh dari posisi duduk Ogie. Jantungku mendadak berdetak hebat, dan kurasakan wajahku memanas. Walau bukan pertama kalinya keseksian tubuhku dinikmati mata lelaki lain, namun hal ini adalah pertama kalinya aku memperlihatkan aurat tubuhku di tempat umum. Memamerkan ketelanjangan tubuhku kepada seseorang yang sama sekali tak aku kenal. Buru-buru, kuserahkan kembali handphone Ogie ke suami baruku dan kutelungkupkan kedua telapak tanganku pada payudaraku, berusaha menutupi gundukan daging yang tumbuh di dadaku.

“Kok teteknya ditutup dek?” gausah malu-malu ah…” ujar mas Manto yang melihatku sedikit malu, langsung meletakkan handphone Ogie di lantai dan bergerak kebelakang tubuhku lalu memelukku erat.

“Udah dek… kasih lihat aja sedikit…” ujarnya sambil mengecup tengkukku.

“Udah ah mas…kita balik makan yuk…ntar kita dicari’in…”

Mas manto kembali tersenyum dan mengecup tengkukku mesra. Dengan tangan kasarnya, ia langsung mengelus telapak tanganku yang masih bertengger di payudaraku. Perlahan, mas Manto membuka telungkupan telapak tanganku dan membiarkan payudaraku terekspos dengan bebas.

“Suka Gie” Tanya mas Manto

Ogie mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat, mirip mainan jadul, mainan anjing yang biasanyak dipasang didashboard mobil.

“Sebelumnya…apa kamu pernah megang tetek cewek? Tanya mas Manto lagi.

“Belum mas…belum…” gelengnya.

“Mau ngerasain lembutnya daging tetek kaya gini…?”

“Mas udah ah… “ bisikku malu pada mas Manto.

“Mau…mau…mau” jawab Ogie tanpa berpikir.

“Sekarang coba kamu berdiri…” perintah mas manto lagi, tanpa menggubris keberatanku sama sekali.

Seperti anak TK yang diperintahkan gurunya, Ogie menurutin semua perkataan mas Manto. Dan seolah lupa akan rasa sakit pada perut akibat hantaman mas manto tadi, ia pun langsung berdiri. Kuperhatikan sosok pramusaji muda yang berada didekatku itu. Aku baru sadar, walau badan Ogie lebih tinggi daripada mas manto namun ternyata tubuh Ogie begitu kurus,. Sekitar 175cm / 55 kg. Berusia sekitar 20 tahun, berambut keriting dan berkulit kuning langsat. Ada sesuatu yang membuatku sedikit tertawa ketika melihat wajahnya, hidungnya besar sekali dan sedikit bengkok. Mirip hidung orang Negara timur sana.

“Aku jadi penasaran, bagaimana bentuk penisnya, apakah sama dengan yang diceritakan orang lain….?” Batinku sambil tersenyum tipis.

“Kamu curang Gie…” ujar mas Manto yang sekarang sudah mulai meremas daging kenyal payudaraku, membuat darah nafsuku semakin mendidih.

“Ma…maaf…? Kok bisa mas?”

“Lihat aja kami… aku dan biniku telanjang…tapi kamu? Masih berpakaian lengkap gitu?” ujar mas Manto. “Kalau kamu masih mau melihat keseksian tubuh biniku…lepas juga donk semua pakaianmu…”

“Waduh?…” Ogie menggaruk-garukkan kepalanya, bingung.

“Ya udah kalau nggak mau…kamu keluar saja…aku mau nerusin ngentotin biniku…”

“Ngentot? Emang kalau saya telanjang…saya boleh ngelihat bapak ngentotin istri bapak?” seolah tak percaya akan pendengaran telinganya, pramusaji itu memperjelas kalimat mas Manto barusan.

“YUP… itu kalau kamu mau…” Jawab mas manto singkat.

“Mas…apaan sieh…” tanyaku pada suami baruku yang masih memeluk tubuhku dari belakang.

“Tenang dek…kamu pasti bakal menyukainya…” bisiknya lirih padaku.

“Iya mau…mau…mau…” jawab Ogie yang sudah mulai tidak sabar. Segera ia melepas seluruh kancing kemeja kerjanya.

“EIIITTTSSS…Tapi…ada syaratnya…”

“Hah…? Syarat apa pak…?” Ogie kembali menggaruk-garuk kepalanya sambil melongo kebingungan.

“Kamu boleh melihat aku ngentotin biniku…boleh coli didepan biniku…bahkan kalo kamu mau, kamu boleh menyentuh tubuh seksi dan tetek biniku ini…asal…” mas Manto sengaja memutus kalimatnya. Ditimang-timangnya kedua gundukan daging besar yang ada di depan dadaku ini dengan tangan kasarnya, sembari menunggu respon dari Ogie.

“Ya? Asal? Asal kanapa pak?” Tanya Ogie tak sabaran…

“….asal…kamu mau menukar handphone canggihmu itu dengan handphone bututku” kata mas Manto sambil tersenyum lebar.

“ANJRIT“ umpatku dalam hati.

Sebenarnya, jika kuperhatikan, kata-kata yang diucapkan mas Manto barusan sangat kurang ajar. Benar-benar kampungan. Dia menawarkan orang yang sama sekali tak aku kenal untuk dapat menikmati ketelanjanganku. Menawarkan pramusaji yang bekerja di depot kecil ini beronani didepanku. Dan menawarkan lelaki hidung bengkok ini untuk dapat menyentuh kemontokan aurat tubuhku, hanya demi sebuah handphone. Ya, hanya demi sebuah handphone. Namun aneh. Begitu mendengar kalimat kurang ajar mas Manto barusan, detak jantungku tiba-tiba semakin cepat dan darahku berdesir hangat. Mendadak, rasa isengku yang tadi kurasakan, semakin menggebu tak tertahankan. Rasa iseng untuk dapat memamerkan aurat tubuhku, rasa iseng untuk mempersilakan orang lain menyentuh tubuhku, dan rasa iseng untuk membiarkan orang yang tak kukenal melihat persetubuhanku. Kulihat, selangkangan Ogie sudah mulai besar menggembung, tanda nafsu birahinya sudah kembali.

Ia pun sekarang sudah mulai berani menatap ke arahku dan berulang kali melirik ke payudaraku yang masih tak tertutup bra sama sekali. Ia seperti berpikir keras, menimbang-nimbang penawaran yang mungkin hanya datang sekali dalam seumur hidupnya.

“Ayolah Gie, terima saja… “ ujar mas manto. “Tuh…kontol kamu saja sudah ngaceng banget…” tambahnya ketika melihat Ogie menyentuh selangkangannya sekedar membetulkan posisi batang penisnya yang menegang.

“O…oke deh…” jawab Ogie yakin “ kapan lagi bisa ngeliat bini orang dientot dengan mata kepala sendiri….” Ujar Ogie yang tanpa berpikir panjang langsung melucuti semua pakaian yang ia kenakan.

Kemeja, kaos kutang, celana panjang, sepatu dan kaos kakinya langsung melayang dan terjatuh ke lantai toilet tempat ia kerja. Kulihat tubuh kurus Ogie yang berwarna kuning pucat sekarang sudah berwarna kemerahan, tanda darah birahinya sudah memanas. Dadanya sudah bergerak naik turun dan nafasnya sudah sangat memburu. Saking hornynya, tangan kurusnya juga sudah tak dapat dapat diam, sesekali mengurut tonjolan yang membesar diantara selangkangannya. Namun ketika Ogie hendak membuka celana dalamnya, buru-buru mas Manto mencegahnya.

“Eit… sisain celana dalamnya buat biniku ya” potong mas Manto ”…jangan dibuka dulu”

Terbersit sedikit kekecewaan diwajah mesum Ogie. Karena ternyata, hanya untuk beronani ria, tak semudah yang pramusaji itu bayangkan. Sambil menghela nafas panjang, Ogie hanya bisa menurut pasrah, dan membiarkan celana dalam coklat itu membungkus batang selangkangannya. Mengetahui nafsu birahi Ogie yang semakin memuncak, mas Manto tak tinggal diam. Tangan kirinya mulai kembali meremas payudaraku sambil sesekali memelintir putting susuku yang sudah mencuat tinggi, dan tangan kanannya meremas telapak kananku lalu membawanya kebelakang tubuhku.

“Kocok kontolku dek…” pintanya pelan sambil mengecup pundakku.

Seolah terhipnotis, aku langsung menggenggam batang besar selingkuhanku itu lalu mengocoknya perlahan. Ku tak habis pikir akan kehebatan penis mas Manto ini. Padahal baru beberapa menit tadi ia memuntahkan sperma kentalnya itu, sekarang penis itu sudah kembali mengeras disertai kedutan hebat.

“Benar-benar berbeda dengan penis mas Andri suamiku, yang jika setelah orgasme, perlu waktu puluhan menit untuk dapat kembali mengeras seperti ini.…” batinku.

“Ooouuuhh… enak banget dek kocokan jemari lentikmu…” lenguh mas Manto. Dikecupnya pundakku berulang kali sambil memperkeras remasan tangan kasarnya pada payudaraku.

“Ouuhh mas…” merasakan remasan dan permainan jemari kasar mas Manto pada payudara dan putting susuku, aku hanya bisa mendesah. Dan semakin kupercepat kocokan tanganku pada penis panjangnya.

Melihat nafsu birahiku yang semakin tinggi, mas manto memindahkan tangan kanannya dari payudaraku dan menelusupkan kedalam celana dalam hijauku. Sambil tetap mengecup pundak dan tengkukku, mas Manto mulai mempermainkan biji kelentitku yang juga sudah mengeras.

“Enak dek?” bisik mas Manto.

“Iya mas… Enak banget …” jawabku singkat “ terus mas…terus towel itil adek…”

“Towel apanya dek?” Tanya mas Manto.

“I…Itil adek mas…towel itil adek” ujarku yang sekarang sudah tak malu-malu lagi.

Mendengar kalimatku barusan, alih-alih mempercepat towelan pada biji kelentitku, mas manto malah mendadak jongkok dibelakangku sambil buru-buru menurunkan celana dalam hijauku. Dan tanpa basa-basi, ia langsung berdiri lagi dan menempatkan batang panjangnya disela-sela pangkal pahaku lalu menusuknya perlahan.

“BLESSS…” Kepala penis panjang mas manto melesak masuk, menggesek bibir selangkanganku dan menyembul keluar melalui bawah celah kewanitaanku.

“Mas…” desahku sambil merasa bulu kudukku merinding.

Mas manto langsung menggesek-gesekkan batang beruratnya itu maju mundur. Dan karena saking panjangnya batang penis mas manto, ketika panggulnya menabrak pantatku, batang penis itu nongol jauh kedepan. Hingga sekilas, aku terlihat seperti memiliki penis yang tumbuh dari lubang kewanitaanku. Tangannya pun tak mau tinggal diam. Dengan kasar, diremasnya daging kembarku sambil sesekali memelintir putting susuku yang semakin tinggi mencuat.

“Mas…adek sudah ga tahan…” desahku pada mas Manto.

“Sabar ya dek…bentar lagi kok…” jawab selingkuhanku singkat.

“Gatel banget mas…” pintaku

Mas Manto tak menjawab derita birahiku, hanya terus mengecup pundakku, meremas payudaraku, memaju mundurkan pinggulnya dan terus menerus menowel biji kelentitku dari depan.

“Mas…ayo buruan… tusuk memek adek mas…” pintaku lagi.

Seolah telah tenggelam ke dalam rasa gatal birahi, semua rasa maluku seperti lenyap seketika. Tanpa rasa malu, aku meminta untuk dapat segera disetubuhi, mengiba untuk dapat segera dizinahi, tanpa memperdulikan sosok lelaki muda yang berada didepanku. Ogie yang sedari tadi melihat tingkah laku yang kamipun, nampaknya sudah tak mampu lagi menahan birahinya yang telah memuncak. Karena dapat kulihat, bercak lendir dikain celana dalam lusuhnya. Lendir precum yang telah membanjir keluar.

“Sange Gie…” Tanya mas Manto tiba-tiba.

“I…iya pak…” jawab Ogie malu-malu

“Pengen coli ya…?”

Ogie tak menjawab, hanya mengangguk malu-malu.

“Enak dek…?” Tanya mas manto padaku.

“Mas…ayo buruan…” desahku kesal, karena permintaanku sama sekali tak dituruti oleh selingkuhanku ini. Mas manto hanya menggesekkan batang penisnya diluar celah vaginaku.

“Buruan apa…?” goda mas Manto

“Ah mas… jangan becanda ah… adek sudah sange banget nih…”

“Buruan apa dulu…?”

“Tusuk memek adek…”

“Boleh…tapi ada syaratnya…”

Kukernyitkan alisku heran.

“Kamu bantuin Ogie coli ya…” ujar mas masto enteng sambil tersenyum.

“ANJRIT…” umpatku dalam hati. “Permainan apa lagi sih ini “ batinku dalam hati…

Dengan santai, didorongkannya pundakku maju kedepan, mendekat kearah tempat dimana Ogie berdiri. Mas Manto yang berada dibelakangku pun menghentikan goyangannya. Mencabut batang penisnya dari bawah selangkanganku dan mulai menempatkan kepala penisnya di ujung celah kewanitaanku. Digesek-gesekkan bonggolan kepala penisnya itu pada bibir vaginaku yang sudah membanjir basah.

“Buka celana dalam Ogie dek…” pinta mas Manto tenang.

“Mas…apa-apaan sih…?” tanyaku dengan nada menolak, sambil mencoba menegakkan punggungku lagi.

Mendengar nada keberatan dalam suaraku, mas Manto semakin mempercepat gesekan kepala penisnya pada lubang vaginaku, sehingga membuat gatal dinding celah kewanitaanku semakin meronta-ronta. Ditahannya punggungku kuat-kuat, dan didorongnya tubuhku sampai wajahku menabrak tubuh Ogie.


Ogie
 Dengan kedua tanganku, aku bertumpu pada dinding toilet, kutahan sekuat mungkin tubuhku supaya tak menabrak perut Ogie. Namun apalah daya, dorongan mas Manto dari belakang sangatlah kuat. Terlebih, gelitikan kepala penis mas Manto pada vaginaku, membuat pertahanan kaki-kakiku sama sekali tak dapat aku andalkan. Sehingga setiap kali aku meronta dan menolak permintaan mas Manto, kepala penisnya menguak masuk bibir vaginaku, membuat tubuhku melemas seketika. Untuk kesekian kalinya, kepalaku menabrak perut rata Ogie.

“Dek… ayo donk…buka celana dalam Ogie …” perintahnya lagi.

Aku tak menjawab. Juga sama sekali tak bergerak. Hanya berdiam diri sambil berusaha menjauhkan tubuhku dari badan Ogie.

Karena gemas, mas manto semakin menggoda nafsu birahiku. Dan, tanpa sepengetahuanku, ia memerintahkan Ogie untuk meremas payudaraku.

“Oooouuugghhh…”

Seperti makan buah simalakama, aku tak dapat banyak berbuat apa-apa. Karena kedua tanganku menopang berat tubuhku supaya tak menabrak badan Ogie, aku menjadi sama sekali tak berdaya ketika pramusaji itu mulai meremas dan mempermainkan payudaraku. Terlebih, dari belakang tubuhku, mas Manto semakin menggelitik bibir vaginaku dengan bonggolan kepala penisnya, membuat lendir kewanitaanku semakin membanjir.

“Empuk banget pak…” ujar Ogie kegirangan ”Anget…”

“Enak khan Gie? Itulah kelebihan tetek biniku…” bangga mas Manto ”Coba kamu pelintir pentilnya…”

“Keras banget pak…mirip manisan anggur…”

“HAHAHAHAHAHA…” tawa mas manto meledak, mendengar kata-kata polos Ogie.
Merasakan permainan dua lelaki mesum ini pada tubuhku, aku hanya bisa pasrah, melenguh keenakan dan membiarkan mereka memainkan semua aurat tubuhku sesuka mereka.

“Enak dek?” Tanya mas Manto

“Hggghhh….”

“Mau mas sodok sekarang dek?” tanyanya lagi.

“Hhhooo…oohh…” jawabku.

“Tapi… kamu mau khan… nyepong kontol Ogie? Mas pengen liat kamu nyepong kontol orang lain dek…”

ANJING. Benar-benar kurang ajar kalimat mas Manto, sangat tak berpendidikan. Baru kali ini aku dipermalukan seperti ini. Ia sungguh-sungguh memerintahkan aku untuk mengonani dan mengoral penis orang yang sama sekali tak aku kenal. Namun apa dayaku, karena rangsangan bertubi-tubi dua lelaki mesum ini pada vagina, kelentit dan payudaraku, otakku sudah tak mampu berpikir jernih sama sekali. Yang aku bisa lakukan hanyalah melenguh keenakan dan menganggukkan kepalaku, menyanggupi permintaan bejat suami baruku.

“G…Gie buka celana dalammu…mbak pengen nyobain kontolmu.…” pintaku lirih.

Bak mendapat durian runtuh, Ogie segera membungkukkan badannya dan melepas celana dalam lusuhnya. Sampai-sampai, karena saking bersemangatnya, begitu karet celana dalam Ogie melorot kebawah, ujung kepala penisnya langsung mencuat keatas, menampar dagu dan hidungku.

“Huuffhhh…” Aku melihat batang kemaluan lelaki lain tepat di depan hidungku.

Dengan seksama, kulihat penis lelaki perawakan timur tengah ini.

“Besar dari hongkong…?” tanyaku dalam hati. Tiba-tiba aku tertawa sendiri. Nampaknya, batang penis yang Ogie miliki, agak sedikit berbeda dengan apa yang orang-orang gemborkan. Tak sebesar pemberitaan yang beredar dimasyarakat. Karena begitu melihat penis Ogie, semua kabar itu kuanggap hanyalah mitos belaka. Batang penis Ogie tak jauh berbeda dengan penis orang Indonesia pada umumnya, malah tak sampai setengah dari besar batang penis mas Manto. Walau memang agak sedikit lebih panjang daripada penis suamiku, namun penisnya sama sekali tak seperti yang orang pikirkan tentang orang Timur Tengah sana. Penis itu begitu kurus.

“Mirip keripik belut…” tawaku lagi dalam hati.

Karena memang benar, sekilas penis Ogie terlihat begitu unik. penis itu berwarna hitam, beda dengan warna kulit pemiliknya. Ditengah batang penisnya, terdapat sambungan kulit kulup bekas khitan berwarna merah tua, dan disekujur batang penisnya bertonjolan urat-urat berwarna hijau kehitaman. Rambut kemaluannya tumbuh tak terawat, sangat rimbun dan panjang, sehingga kalau dilihat sekilas, buah zakar Ogie seolah menghilang tertutup rambut kemaluannya. Dan, yang paling lucu bentuk batang penisnya, bengkok kekanan.

Kurentangkan jemari tangan kananku dan kuletakkan dipangkal penisnya. Kucoba mengukur penis Ogie. “Hhmmm…lumayanlah…sekitar 16-17 cm….Ternyata…tak beda jauh dengan penis mas Andri…apa mungkin karena diameternya yang tipis ya…sehingga membuat penis Ogie terlihat lebih panjang” tanyaku dalam hati sambil mencoba menggenggam batang penis setebal 2 jari itu.

Tipis sekali batang penisnya, karena hanya dengan ibu jari dan jari telunjuk, penis kurus ini Ogie sudah dapat kukocok. Sungguh berbeda dengan batang penis mas manto, yang perlu segenggaman penuh jemari tanganku untuk dapat mengocok batang penisnya dengan benar.

“Pasti sakit sekali kalau ditusuk oleh batang kurus bengkok kayak gini…”

Mendadak, ketika sedang melamunkan batang penis Ogie, tanpa ada pemberitahuan apapun dari mas manto, kurasakan bonggolan daging kepala penisnya mulai menyeruak kedalam bibir vaginaku.

“CLEEEPP”

“Oooooouuuggghhh” lenguhku perlahan.

Kembali kurasakan denyutan kepala dan batang penis mas manto, memenuhi setiap centi rongga vaginaku. penis keras itu terasa begitu besar dan sesak, menguak celah kewanitaanku lebar-lebar.

“Enak dek…?”

“Hee…ehhh” Kuanggukkan kepalaku dalam-dalam.

“Yaudah…buruan sepong kontol kurus itu dek…” ucap mas Manto sambil mendorong pinggulnya maju dengan keras, mencoba melesakkan batang raksasanya masuk kerongga vaginaku.

Segera saja kudekatkan penis itu ke mulutku. Namun, begitu aku akan menjilat kepala penis Ogie, mendadak, hidungku menangkap aroma yang sangat tak mengenakkan. Aroma itu berasal dari depan wajahku, dari batang penis yang menyeruak tegak dari rimbunnya rambut kemaluannya. Selangkangan Ogie benar-benar berbau tak sedap. Pesing dan amis bercampur menjadi satu. Aromanya benar-benar pahit. Kusentuh kulit kepala penisnya dengan ujung lidahku lalu kukecap rasa dan teksturnya.

“Asin…” batinku.

“Yak…gitu dek…bener…sepong kontol kurus itu dek” ujar mas manto yang semakin mempercepat sodokan penisnya.

Karena akal sehatku telah tertutup nafsu birahi, aku hanya bisa melenguh keenakan dan mulai menjulurkan lagi lidahku, mencoba merasakan batang pesing milik pramusaji mesum ini.

“Nakal kamu yaaa…” ujar mas Manto sambil mulai menghujamkan batang raksasanya dalam-dalam ”…istriku nakal sekali…mirip pelacur murahan…buruan dek …buruan…sepong saja kontol kecil itu…hahahahaha…”

Tak kupedulikan ocehan tak bermutu yang keluar dari mulut mas Manto. Yang pasti, saat ini, aku hanya menginginkan satu kata, yaitu orgasme.

“Oouuggghhhmm…enak banget maaassss….”

Kembali kukocok batang penis kecil itu dan perlahan kutarik mendekat kearah mulutku. Karena sudah sangat bernafsu, tak kuhiraukan lagi segala aroma pesing penis pramusaji itu. Dan, segera saja kumasukkan batang kurus itu kedalam mulutku.

“HAP…” kucaplok kepala penis Ogie dengan lahap. Membiarkan dirinya merinding dan mengejang-ngejang keenakan.

“HOOOooooooooohhhhhh…mbak….”

“SLUUuuuurrrppp…” jilatan lidahku langsung menyapu seluruh permukaan kepala penisnya yang sudah memerah. Bibirku menyedot dan mengurut batang penisnya sambil sesekali kukocok perlahan.

Susah sekali mengurut dan mengoral penis Ogie yang membengkok seperti pisang itu. Aku tak bisa masukkan seluruh batang kurusnya kedalam mulutku. Karena setiap kucoba menelan batang bengkoknya, kepala penisnya selalu menabrak dinding pipi kiriku. Namun, bukan Liani namanya, jika aku tak dapat menaklukkan penis bengkok perjaka ini. Tak kehabisan akal, kukunyah buah zakar yang penuh ditumbuhi rambut itu dengan bibirku.

“Ooooohhhh…mmmmhhhh” gelijang Ogie menjadi-jadi.

“Gimana Gie?” Tanya mas manto “Enak nggak sepongan biniku?”

“Ooohhh…HOOOooooooooohhhhhh….” Lenguh Ogie sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.

Merasakan kenikmatan dari mulut dan bibir tipisku, tangan Ogie pun bergerak semakin liar. Remasan dan pelintiran jemarinya semakin keras. Mencengkeram daging payudaraku yang menggelantung bebas sambil sesekali membetot putting susuku. Mas mantopun berbuat serupa, mungkin karena melihat wanita selingkuhannya mengoral pria lain, darah nafsu mas Manto semakin mendidih.

“PLEK…PLEK…PLEK…” suara tumbukan alat kelamin kami kembali menggema.

Threesome, seks bertiga. Aku, mas Manto dan Ogie, berlomba-lomba untuk dapat lebih dahulu mencapai garis finish kenikmatan. Orgasme, itulah satu-satunya tujuan kami. Lenguhan, desahan dan teriakan kenikmatan, keluar dengan seksi dari mulut kami bertiga. Semua kegaduhan itu, tak lagi kami hiraukan. Masa bodoh, tak peduli jika ada orang lain yang mendengar.

“Hoooohhh mbak…enak banget…” ujar Ogie, yang mungkin baru pertama kalinya ia merasakan dioral oleh istri orang lain. Ia semakin beringas meremas buah payudaraku yang menggelantung bebas, sambil sesekali ia memegang kepalaku dan meminta mulutku untuk mengurut batang penis kurusnya naik turun.

Di belakang tubuhku, Mas manto seperti memakai holahop, menggoyangkan pinggulnya maju mundur dengan cepat. Melesakkan penis panjangnya berulang kali ke liang vaginaku.

“Liani…kau benar-benar nakal” batinku dalam hati ”Lubang mulut dan vaginamu dipakai oleh dua orang yang berbeda dalam waktu bersamaan…benar-benar GILA…”

“PLEK…PLEK…PLEK…”

Akibat hujaman penis mas Manto yang begitu kasar, kurasakan bibir dan liang vaginaku menjadi sangat sensitive, geli jika disentuh. Lendir vaginaku tak henti-hentinya merembes keluar, membanjiri selangkangan dan pahaku. Basah, benar-benar basah. Biji keletitkupun kurasakan sudah merah membengkak, sangat terangsang. Sampai tiba-tiba rasa panas yang sangat aku kenal mulai turun dari rongga rahimku. Orgasmeku akan segera tiba.

“Mas…Ohhh….mas….aku mo keluar mas…” ujarku sambil menengok kearah selingkuhanku yang dengan giat menancapkan batang penisnya dalam-dalam ke liang vaginaku. Melihatnya merem melek keenakan, segera saja kucengkeram paha kanan mas Manto, memintanya untuk segera mempercepat sodokan penis besarnya.

“Hhh…hhh dasar perek…baru bentar saja sudah mau keluar…Enak dek?” Tanya mas Manto dengan nafas yang memburu.

“Mmmmhh….enak mas…terus mas… terus…” jawabku sekenanya, tak memperdulikan semua julukan bejatnya padaku.

Kuterus menggoyang-goyangkan pinggulku sambil terus kembali mengenyot batang bengkok Ogie dengan mulutku.

“Terus apa dek?”

“Terus…sodok memek adek mas…

“Aduh…mas nggak ngerti…” ujar mas Manto pura-pura bego.

“Ah mas…jangan becanda ah…”

“Bener dek…mas masih nggak ngerti mau kamu…” tambahnya lagi “ minta yang bener dong…kamu minta apa?”

“Shhh….sodok memek adek mas…shhh…”

“Sodok?”

Sebenarnya aku merasa sebal akan tingkah bego yang dilakukan mas Manto, namun karena ingin cepat-cepat merasakan orgasme, untuk terakhir kalinya kuperintahkan…

“ENTOTIN MEMEK ADEK MAS…ADEK MO KELUAR…” perintahku lantang ke suami baruku. Aku tak peduli akan adanya Ogie yang juga berada didalam ruangan toilet itu. Yang jelas, saat ini aku ingin segera orgasme. Titik.

Mendengar perintah lantangku, tiba-tiba, mas Manto menghentikan gerakan maju mundur pinggulnya, mencabut batang berbonggolnya dan memutar badanku yang masih dalam posisi membungkuk itu 180 derajat. Sekarang kepalaku menghadap batang penis mas Manto dan vaginaku menghadap ke badan kurus Ogie. Tanpa basa basi, mas Manto segera saja menyorongkan batang penisnya kearahku. Ia berusaha menjejalkan batang raksasa yang masih berlumuran busa putihnya itu masuk kedalam mulutku. Karena begitu kuatnya dorongan kepala penis mas manto, sampai-sampai tubuhku agak terdorong mundur dan menabrak badan Ogie.

“Mas…?” tanyaku keheranan. Kucoba mencari tahu apa maksud selingkuhanku ini. Namun setiap kali kucoba menegakkan tubuhku, lengan kekar mas Manto mencegahnya dan memintaku untuk tetap pada posisi membungkuk ini.

“Mas…?” tanyaku lagi sambil mendongakkan kepalaku mencoba mencari tahu.

Mas Manto sama sekali tak menjawab, ia hanya menatapku tenang sambil tersenyum.

“Ayo Gie… gantian….” ujar mas Manto.

“Apa-apaan ini mas?…..mmmppphhhhfff” mulutku tak mampu meneruskan kalimat yang akan kutanyakan pada selingkuhanku. Mas Manto mencengkeram kepalaku dengan erat, dan mulai memaksakan penisnya untuk masuk.

Tiba-tiba, kurasakan tangan dingin Ogie menyentuh pantatku. Perlahan namun pasti, tangan itu mulai berani mengelus dan meremas buah pantatku. Bahkan tak jarang, tangan Ogie berani menyentuh celah vaginaku yang masih basah berlumuran lendir kewanitaanku.

“Ogie…apa-apaan kammmmmppphhhfff” lagi-lagi, aku tak mampu menyelesaikan kalimatku, karena kembali mas Manto memegang erat kepalaku, dan menjejalkan batang raksasanya kuat-kuat ke dalam mulutku.

“Ayo Gie…buruan masukin kontolmu…sekarang giliranmu untuk bisa ngerasain gimana enaknya empotan memek biniku…” perintah mas Manto pada pramusaji mesum yang berdiri tepat di belakang liang kewanitaanku

To be continued…







Related search

Related Posts

Comments are closed.